COVER BUKU (SEKOLAH BUKAN PASAR)Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru)
Penulis : St. Kartono
Penerbit : Penerbit Buku Kompas – Jakarta
Cetakan Ke-1 : Juni 2009
Tebal : 221 halaman

Budaya titip, prioritas anak pejabat, surat sakti dan main uang seakan menjadi rahasia umum dalam setiap proses penerimaan siswa baru. Belum lagi dengan biaya daftar ulang, uang gedung, sumbangan pendidikan lainnya jika dinyatakan diterima. Ketika tahun pelajaran mulai berjalan, pengadaan seragam siswa dan buku pelajaran menjadi tarik ulur berbagai elemen untuk mencari keuntungan. Menjelang akhir tahun pelajaran ada lagi. Sebut saja misalnya program study tour. Rutinitas irama dalam setiap kalender pendidikan semacam itulah yang memberikan kesan komersialisasi dalam dunia pendidikan di tanah air. (lagi…)

Cover Buku Pendidikan Kritis TransformatifOleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul :    Pendidikan Kritis Transformatif
Penulis :    Muhammad Karim
Penerbit :    Ar-Ruzz Media – Yogyakarta
Cetakan I :    April – 2009
Tebal :    281 halaman

Dunia pendidikan di tanah air selama ini, terasa tidak lebih dari apa yang disebut dengan pabrik intelektual. Sedangkan hakikat pendidikan seutuhnya seakan terabaikan begitu saja. Mengidentifikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari nilai-nilai sejatinya. Digantikan dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentuasinya terletak pada pembentukan watak dan wawasan para intelektual kita yang hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Asumsi itu tidak lain didasarkan adanya beragam fakta yang menunjukkan bahwa di segala jenjang dan bidang kehidupan di negeri ini mengalami krisis filosofi hidup. Mereka yang terdidik justru menjadi koruptor sedangkan mereka yang tidak terdidik malah menjadi maling. Ada pula golongan yang kebingungan, lalu menjadi tukang pengisap sabu-sabu dan terjerumus pada narkoba. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya. (lagi…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Memasuki tahun 2009 ini, pemerintah kian gencar mewacanakan pendidikan gratis. Terlebih dalam beberapa minggu terakhir ini Departemen Pendidikan Nasional mengeluarkan iklan sekolah gratis. Tidak tanggung-tanggung, iklan sekolah gratis ini santer ditampilkan di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA juga nampang pada iklan tersebut. Tertulis cukup besar dalam pita merah, Sekolah Gratis. Di atasnya tampak tulisan sedikit lebih kecil, Mulai Tahun 2009. Dengan ukuran yang sama di bawahnya ada tulisan, Khusus SD dan SMP Negeri. Satu baris tulisan lagi dibuat sangat kecil di bawahnya, (Kecuali RSBI dan SBI).

Sebelumnya memang pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional juga telah mengeluarkan instruksi bernomor 186/MPN/KU/2008 yang ditujukan kepada setiap penyelenggara pendidikan untuk tidak ada lagi pungutan-pungutan kepada masyarakat yang sedang menyekolahkan putra-putrinya pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP Negeri). Sebagai bentuk tindak lanjut diberlakukannya PP. No. 47/2008 dan PP. No. 48/2008 tentang pembiayaan pendidikan. Hal ini juga dikarenakan pemerintah sudah menaikkan jumlah dana BOS 2009 sebesar rata-rata 50% dari dana sebelumnya (tahun 2008). (lagi…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Festival Malang Kembali (FMK) atau juga dikenal dengan Malang Tempo Doeloe (MTD) adalah agenda tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat Malang pada khususnya dan masyarakat Jawa Timur bahkan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya. Utamanya bagi mereka yang mempunyai kepedulian pada sejarah dan budaya lokal. Sebuah kegiatan yang tidak hanya memberikan nuansa hiburan pada rakyat, gelar kuliner tempo dulu, ajang temu antik, ajang fashion tempo dulu bahkan barang-barang bersejarah namun juga menjadi ajang pembelajaran budaya dan sejarah dihadirkan dalam kegiatan ini.

Sebuah kegiatan yang jarang diadakan atau bahkan tidak pernah ada di daerah-daerah lain kecuali hanya dapat ditemukan di Kota Malang, Kota Bunga sekaligus Kota Pendidikan Internasional ini. Acara yang mengemas secara apik dan menarik potret sejarah dengan berbagai budaya lokal bangsa dan rakyat Indonesia, khususnya yang berada di Malang Raya. Menghadirkan kembali ikon budaya lokal dan sejarah bangsa Indonesia secara umum yang kini tengah dirongrong oleh perkembangan zaman yang begitu cepat dari waktu ke waktu. (lagi…)

Cover Buku Iklan Politik dalam Realitas MediaOleh: Ahmad Makki Hasan*

Judul : Iklan Politik Dalam Realitas Media
Penulis : Sumbo Tinarbuko
Pengantar : Yasraf A. Piliang
Penerbit : Jalasutra – Yogyakarta
Cetakan I : Maret – 2009
Tebal : xx + 120 halaman

Kampanye dengan beriklan secara besar-besaran yang membutuhkan biaya tinggi dianggap mampu mendongkrak popularitas. Itulah yang seakan menjadi matra bagi setiap partai politik dan para calon legislatif bahkan calon presiden dan calon wakil presiden untuk mencuri pilihan politik masyarakat pada abad teknologi informasi dan komunikasi ini. Citra politik seorang tokoh dibangun dengan instan melalui aneka macam media baik cetak maupun elektronik. Melalui mantra itu, diharapkan persepsi, pandangan dan sikap politik masyarakat bisa dibentuk sedemikian rupa. Tujuannya tiada lain agar dapat mendongkrak perolehan suara berlipat ganda.

Pemilu kali ini menjelma menjadi politik pencitraan yang lebih merayakan citra ketimbang kompetensi yang dimiliki. Pencitraan diri yang kemudian disebarluaskan melalui berbagai macam bentuk media dengan sendirinya akan menggiring pada sikap narsisisme, simplisisme dan nihilisme dalam berpolitik. Adalah kecenderungan pemujaan diri yang berlebihan para elit politik dalam membangun citra diri meskipun itu jelas bukan realitas diri yang sesungguhnya. Dekat dengan petani, pembela wong cilik, akrab dengan pedangan pasar, pemimpin bertakwa, penjaga keutuhan bangsa, pemberantas korupsi dan segudang lagi bentuk pencitraan diri yang penuh kebohongan. (lagi…)

DSC_1272

cover-buku-strategi-madrasah-unggul1Oleh : Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Strategi Madrasah Unggul
Penulis : Drs. H. Farid Hasyim, M.Ag.
Penerbit : Prismasophie – Yogyakarta
Cetakan I : April 2009
Tebal : 176 halaman

Ada banyak bentuk dan jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Sebut saja misalnya Pondok Pesantren, Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA), Madrasah, Perguruan Tinggi Islam dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya merupakan aset dari konfigurasi sistem pendidikan nasional. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sejatinya diharapkan menjadi khasanah pendidikan Islam dan dapat membangun serta memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal. Namun pada kenyataan pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini.

Sebagai contoh adalah lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan madrasah. Sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam di tanah air hingga hari ini madrasah masih dipandang sebelah mata. Keberadaannya seakan turut mengindikasikan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia penuh dengan ketertinggalan, kemunduran dan dalam kondisi yang serba tidak jelas. Memang terasa janggal dan mungkin juga lucu, karena dalam suatu komunitas masyarakat muslim yang besar, madrasah kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. (lagi…)

Halaman Berikutnya »