Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Kontroversi pelaksanaan Ujian Nasional (UN) kembali memanas akhir-akhir ini. Satu sisi pemerintah cq Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 75 tahun 2009 yang diantara isinya adalah mempercepat pelaksanaan UN 2010 dari tahun-tahun sebelumnya. Disisi lain, masyarakat yang diwakili 58 warga Negara Indonesia sudah memenangi tiga kali gugatan sekaligus di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan yang baru-baru ini adalah di Mahkamah Agung untuk pengehentian kebijakan pelaksanaan UN oleh pemerintah.

Keputusan akhir Mahkamah Agung akhir bulan lalu seakan belum dapat mengakhiri kontroversi pelaksanaan UN. Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional yang kemudian dilanjutkan oleh Badan Nasional Standarisasi Pendidikan (BNSP) seakan masih bersikeras akan melaksanakan UN pada tahun 2010 dan tahun-tahun selanjutnya. Pemerintah tetap pada kebijakannya untuk menggunakan hasil UN sebagai salah satu penentu kelulusan para peserta didik. Pemerintah seakan menganggap angin berlalu terhadap kontroversi UN selama ini. Khususnya terkait pengalaman pelaksanaan UN pada tahun-tahun lalu yang dinilai banyak kecurangan dan kejanggalan. (lagi…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*

Judul : Pendidik Karakter di Zaman Keblinger (Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter)
Penulis : Doni Koesoema A.
Penerbit : PT. Grasindo – Jakarta
Cetakan I : 2009
Tebal : 215 halaman

Guru adalah pelaku perubahan. Gagasan ini menjadikan guru harus peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan, pembaharuan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejalan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Di sinilah tugas guru semestinya harus senantiasa mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas pendidikannya hingga apa yang diberikan kepada peserta didiknya tidak lagi terkesan ketinggalan zaman. Bahkan tidak sesederhana itu saja, ciri guru ideal di era globalisasi seperti saat ini perlu tampil sebagai pendidik, pengajar, pelatih, inovator dan dinamisator secara sekaligus dan integral dalam mencerdaskan anak didiknya.

Salah satu indikator utama unggul tidaknya sebuah sekolah adalah ditentukan dari faktor mutu guru. Guru dituntut memiliki profesionalisme di bidangnya. Artinya guru tidak hanya harus memiliki pengertahuan yang luas tentang bidang yang ajarnya, namun seluruh komponen yang berkaitan dengan pendidikan harus ada pada diri para guru itu sendiri. Hal itu pula didasarkan atas asumsi bahwa persoalan peningkatan mutu pendidikan tentu bertolak pada karakter seorang pendidik. Oleh sebab itu, semakin banyak guru yang berkualitas di suatu sekolah, tentu akan semakin berkualitas pulalah sekolah tersebut. (lagi…)

(Refleksi Hari Pahlawan 10 Novermber)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

“Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda rakyat Indonesia
disuruh datang membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih,
tanda bahwa kita menyerah dan takluk kepada Inggris…”

“Inilah jawaban kita, jawaban pemuda-pemuda rakyat Indonesia:
Hai Inggris, selama banteng-banteng,
pemuda-pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih,
selama itu kita tidak akan menyerah…”

“Teman-temanku seperjuangan, terutama pemuda-pemuda Indonesia,
kita terus berjuang, kita usir kaum penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai ini.
Sudah lama kita menderita, diperas, diinjak-injak…”
“Sekarang adalah saatnya kita rebut kemerdekaan kita.
Kita bersemboyan: Kita Merdeka atau Mati.”

Pidato di atas tiada lain adalah bait kata-kata yang disampaikan oleh Sutomo atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Bung Tomo. Sosok pejuang asal Surabaya (baru setahun dinobatkan dalam deretan pahlawan nasional di negeri ini) yang terkenal dengan semboyannya “rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas”. Ketika membakar semangat arek-arek Suroboyo pada peristiwa pertempuran heroik menghalau masuknya kembali kolonialisme di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Tak salah ketika bangsa ini selalu memperingati Hari Pahlawan pada tiap tanggal 10 November dan Surabaya sebagai ikon Kota Pahlawan bangsa Indonesia.

Namun, sangat disayangkan sikap nasionalisme bahkan patriotisme kini mulai pudar serasa tak tersisa sedikit pun. Terutama pada benak para pemuda penerus bangsa ini. Bahkan boleh dikatakan tidak lagi menyatu dalam jiwa dan raga anak bangsa yang dulu selalu bersemai dalam setiap dada rakyat di seantero nusantara pra dan pasca kemerdekaan. Ratusan tahun lamanya bangsa Indonesia diduduki oleh kolonialisme. Kekayaan bangsa pun dirampas habis. Sampai-sampai ribuan bahkan jutaan nyawa terenggut untuk membebaskan kita dari belenggu penjajahan. Akankah kita sebegitu mudah melupakan jasa-jasa besar mereka bagi bangsa kita Indonesia ini? (lagi…)

COVER BUKU (SEKOLAH BUKAN PASAR)Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru)
Penulis : St. Kartono
Penerbit : Penerbit Buku Kompas – Jakarta
Cetakan Ke-1 : Juni 2009
Tebal : 221 halaman

Budaya titip, prioritas anak pejabat, surat sakti dan main uang seakan menjadi rahasia umum dalam setiap proses penerimaan siswa baru. Belum lagi dengan biaya daftar ulang, uang gedung, sumbangan pendidikan lainnya jika dinyatakan diterima. Ketika tahun pelajaran mulai berjalan, pengadaan seragam siswa dan buku pelajaran menjadi tarik ulur berbagai elemen untuk mencari keuntungan. Menjelang akhir tahun pelajaran ada lagi. Sebut saja misalnya program study tour. Rutinitas irama dalam setiap kalender pendidikan semacam itulah yang memberikan kesan komersialisasi dalam dunia pendidikan di tanah air. (lagi…)

Cover Buku Pendidikan Kritis TransformatifOleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul :    Pendidikan Kritis Transformatif
Penulis :    Muhammad Karim
Penerbit :    Ar-Ruzz Media – Yogyakarta
Cetakan I :    April – 2009
Tebal :    281 halaman

Dunia pendidikan di tanah air selama ini, terasa tidak lebih dari apa yang disebut dengan pabrik intelektual. Sedangkan hakikat pendidikan seutuhnya seakan terabaikan begitu saja. Mengidentifikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari nilai-nilai sejatinya. Digantikan dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentuasinya terletak pada pembentukan watak dan wawasan para intelektual kita yang hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Asumsi itu tidak lain didasarkan adanya beragam fakta yang menunjukkan bahwa di segala jenjang dan bidang kehidupan di negeri ini mengalami krisis filosofi hidup. Mereka yang terdidik justru menjadi koruptor sedangkan mereka yang tidak terdidik malah menjadi maling. Ada pula golongan yang kebingungan, lalu menjadi tukang pengisap sabu-sabu dan terjerumus pada narkoba. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya. (lagi…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Memasuki tahun 2009 ini, pemerintah kian gencar mewacanakan pendidikan gratis. Terlebih dalam beberapa minggu terakhir ini Departemen Pendidikan Nasional mengeluarkan iklan sekolah gratis. Tidak tanggung-tanggung, iklan sekolah gratis ini santer ditampilkan di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA juga nampang pada iklan tersebut. Tertulis cukup besar dalam pita merah, Sekolah Gratis. Di atasnya tampak tulisan sedikit lebih kecil, Mulai Tahun 2009. Dengan ukuran yang sama di bawahnya ada tulisan, Khusus SD dan SMP Negeri. Satu baris tulisan lagi dibuat sangat kecil di bawahnya, (Kecuali RSBI dan SBI).

Sebelumnya memang pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional juga telah mengeluarkan instruksi bernomor 186/MPN/KU/2008 yang ditujukan kepada setiap penyelenggara pendidikan untuk tidak ada lagi pungutan-pungutan kepada masyarakat yang sedang menyekolahkan putra-putrinya pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP Negeri). Sebagai bentuk tindak lanjut diberlakukannya PP. No. 47/2008 dan PP. No. 48/2008 tentang pembiayaan pendidikan. Hal ini juga dikarenakan pemerintah sudah menaikkan jumlah dana BOS 2009 sebesar rata-rata 50% dari dana sebelumnya (tahun 2008). (lagi…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Festival Malang Kembali (FMK) atau juga dikenal dengan Malang Tempo Doeloe (MTD) adalah agenda tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat Malang pada khususnya dan masyarakat Jawa Timur bahkan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya. Utamanya bagi mereka yang mempunyai kepedulian pada sejarah dan budaya lokal. Sebuah kegiatan yang tidak hanya memberikan nuansa hiburan pada rakyat, gelar kuliner tempo dulu, ajang temu antik, ajang fashion tempo dulu bahkan barang-barang bersejarah namun juga menjadi ajang pembelajaran budaya dan sejarah dihadirkan dalam kegiatan ini.

Sebuah kegiatan yang jarang diadakan atau bahkan tidak pernah ada di daerah-daerah lain kecuali hanya dapat ditemukan di Kota Malang, Kota Bunga sekaligus Kota Pendidikan Internasional ini. Acara yang mengemas secara apik dan menarik potret sejarah dengan berbagai budaya lokal bangsa dan rakyat Indonesia, khususnya yang berada di Malang Raya. Menghadirkan kembali ikon budaya lokal dan sejarah bangsa Indonesia secara umum yang kini tengah dirongrong oleh perkembangan zaman yang begitu cepat dari waktu ke waktu. (lagi…)

Halaman Berikutnya »