Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai akan sejarahnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang masih mau mengenang jasa-jasa para pahlawannya. Bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang senantiasa melestarikan budayanya. Setidaknya dari tiga makna filosofi ungkapan itulah mungkin yang turut andil memberikan semangat dan motivasi serta dorongan besar bagi pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat Kota Malang dan Malang Raya untuk menggelar kegiatan tahunan dalam bingkai Festival Malang Kembali (FMK) yang dikenal juga dengan kegiatan Malang Tempo Doeloe.

Sebuah kegiatan yang jarang diadakan atau bahkan tidak pernah ada di daerah-daerah lain kecuali sementara ini hanya dapat ditemukan di Kota Bunga sekaligus Kota Pendidikan Internasional ini. Acara yang mengemas secara apik dan menarik potret tempo doeloe dengan berbagai budaya bangsa dan rakyat Indonesia, khususnya yang berada di Malang Raya. Menghadirkan kembali ikon budaya lokal dan bangsa Indonesia secara umum tentunya yang kini tengah dirongrong oleh perkembangan zaman yang begitu cepat dari waktu ke waktu.

Sebuah bentuk kegiatan pentas besar yang dirangkai sebagai suatu pesta massal masyarakat Kota Malang khususnya dan Malang Raya pada umumnya. Menjadikan setiap bulan Mei sebagai waktu pelaksanaan festival tahunan ini digelar. Acara tahunan yang diprakarsai oleh pemerintah Kota Malang untuk yang ketiga kalinya sejak pertama kali diselenggatakan pada tahun 2006 lalu. Pada tahun ini, FMK baru saja usai. Tepatnya sejak Kamis, 22 Mei 2008 dan berakhir hingga Minggu, 25 Mei 2008. Sebagaimana biasanya, acara ini digelar di sepanjang seantero jalan raya Besar Ijen. Dimulai sejak pukul 08.00 hingga 24.00 wib.

Tajuk yang diangkat pada tahun ini pun sangat tepat. Adalah “sedjoeta tradisi – satoe aksi”. Hal ini tentu sedikit banyak mungkin dikaitkan dengan gema refleksi dan renungan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Dengan mencoba untuk memberikan semangat baru kepada seluruh rakyat Malang Raya dan seluruh rakyat Indonesia yang tengah mengenang satu abad Kebangkitan Nasional yang ditandai dengan berdiri organisasi “Boedi Oetomo” pada 20 Mei 1908 silam.

Pesta tahunan rakyat ini tentu melibatkan seluruh elemen lapisan masyarakat. Mulai dari yang berada di jajaran birokrasi pemerintah, pengusaha menengah ke atas, pedangan kaki lima hingga masyarakat kecil pun tak lepas ikut meramaikan kegiatan ini pula termasuk mereka para perjuang veteran yang pernah turut andil menghantarkan bangsa ini kepada pintu gerbang kemerdekaan.

Dengan menyuguhkan panggung rakyat seperti wayang topeng, ketoprak, ludruk hingga keroncongan. Dihipnotis pula para pengunjungnya dengan dipamerkannya benda-benda purbakala. Termasuk diramaikan dengan adanya pasar rakyat yang di dalamnya menjual kuliner-kuliner kuno, jajanan lama, barang antik hingga pengobatan gratis termasuk pameran artefak-artefak di masa kerajaan kuno. Tentu masih banyak ragam aktivitas dan aksesoris lain yang dapat ditemukan pula selama festival ini berlangsung. Selain sebagai sebuah bentuk tujuan wisata jadi-jadian, kegiatan ini jauh lebih menarik dan sangat bermanfaat karena mampu menghadirkan nuansa masa lalu bangsa ini.

Walaupun memang terkesan glamor dengan sedikit hura-hura di tengah kesengsaraan rakyat kecil saat ini, akan tetapi kegiatan FMK tersebut telah banyak mengundang perhatian masyarakat tidak hanya di daerah Malang Raya namun juga di seluruh pelosok tanah air bahkan tidak sedikit para wisatawan asing menyempatkan diri untuk menghadiri festival ini. Tak heran kerumunan semut manusia seakan-akan tumpah ruah di sepanjang jalan raya Ijen ketika kegiatan ini berlangsung. Panitia sendiri mentaksi pengujung mencapai puluhan ribu orang.

Kegiatan semacam ini harus terus digelar atau bila perlu diikuti oleh daerah-daerah lain. Karena itu telah dapat mengaktualiskan kembali potret kehidupan dan budaya nenek moyang kita baik dalam skala lokal maupun nasional. Dengan begitu dapat membangkitkan kembali semangat generasi bangsa saat ini. Menumbuhkan inspirasi nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara bagi setiap pengunjungnya. Menanamkan rasa senasib dan seperjuangan sesama rakyat Indonesia. Sikap kebersamaan dan gotong royong sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia yang kini kian luntur oleh arus globalisasi.

Tidak salah jika kemudian lewat festival ini, masyarakat diharapkan merenungi kembali untuk mau dan harus mencoba belajar menghargai sejarah dan budaya lokal bangsa. Mempertahankan budaya nenek moyang bangsa yang terus terkikis habis oleh budaya hedonis dan pragmatis seperti sekarang ini. Ajakan dari panitia sendiri kepada seluruh pengunjung untuk menghormati budaya sendiri dengan memakai pakaian tradisional ketika berkunjung patut diacungi jempol dan mendapat diapresiasi. Sebagai salah satu wujud nyata bahwa identitas bangsa ini masih tertanam dalam setiap jiwa sanubari rakyatnya. Semoga!

*) Ahmad Makki Hasan, S.Hum.
Alumnus Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang, kini sebagai Guru SMA Negeri 1 Kota Malang dan Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang.