cover-buku-kematian-misterius-pembaru-indonesia.jpg

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Kematian Misterius Para Pembaru Indonesia
(Orang-orang Cerdas yang Mati Ditangan Bangsanya Sendiri)
Penulis : M. Yuanda Zara
Penerbit : Pinus Book Publisher – Yogyakarta
Cetakan I : Oktober – 2007
Tebal : 204 halaman

Adalah Munir, aktivis HAM, menjadi deretan nama yang kesekian. Meninggal secara misterius di atas pesawat dalam perjalanannya ke luar negeri. Walaupun baru-baru ini hakim telah memutuskan satu nama sebagai aktor intelektual kematiannya, namun masih banyak kejanggalan yang masih belum dapat terungkap secara jelas dan rinci.

Tentu bukan hal yang asing lagi di Indonesia, ketika ada seorang aktivis yang tiba-tiba hilang atau mati begitu saja. Seseorang yang dengan lantang menyuarakan aspirasi orang-orang yang tertindas atas orang-orang penindas. Fakta sejarah menunjukkan bagaimana nasib para tokoh pemberani negeri ini, sepertinya harus mempertaruhkan nyawanya secara sia-sia.

Sudah ada banyak daftar nama para pembaru yang kemudian mati secara misterius. Pengungkapan atas kematiannya seakan-akan terselubung dengan selimut yang sangat tebal. Banyak kalangan yang mensinyalir bahwa hal itu juga berkaitan erat dengan para penguasa di setiap zamannya. Hal inilah kemudian yang semakin memperkuat asumsi adanya unsur kesengajaan para penguasa negeri ini untuk melenyapkannya.

Dari kenyataan seperti itu menujukkan dengan jelas, bagaimana ironisnya negeri ini. Bangsa yang nampak besar dilihat dari ukuran wilayahnya dan  besar dalam jumlah penduduknya, namun kerdil dari jiwa para pemimpinnya. Ketidak-berhasilan untuk mengungkap aktor intelektual kematian misterius para pemberani setidaknya menunjukkan bagaimana para pemimpin negeri ini, sejak pasca kemerdekaan hingga hari ini, tidak serius dalam mengungkap kematiannya yang jelas-jelas tidak wajar.

Dalam buku yang berjudul “Kematian Misterius Para Pembaru Indonesia (Orang-orang Cerdas yang Mati Ditangan Bangsanya Sendiri)” mengulas tragedi tokoh-tokoh pembaru di Indonesia. Aktivis yang kemudian meninggal dengan tidak jelas sebab-musababnya. Sebut saja misalnya Tan Malaka, Wiji Thukul hingga kasus kematian Munir. M. Yuanda Zara, penulis buku ini, mencoba untuk mengungkap ada apa gerangan dibalik itu semua.

Kematian yang tidak jelas ujung parangnya atas seseorang yang dengan gagah berani membela rakyat tertindas. sebuah kematian yang tidak wajar dan pengungkapan yang tidak kunjung selesai bahkan disengaja untuk hilang dengan ditelan oleh waktu. Dengan kekritisannya, penulis buku ini mencoba untuk memberikan inspirasi agar mengingat-ingat kembali tentang mudahnya menyelesaikan masalah dalam bangsa ini. Lebih-lebih dalam bermain-main dengan nyawa seseorang. Tak heran lagi kemudian, jika ada perkataan “jika anda seorang pembaru, maka hati-hatilah hidup di Indonesia.”

Buku kecil dan sedehana ini telah mencoba untuk mengungkap walaupun secara singkat namun padat tentang para pembaru nan pemberani di Indonesia. Seseorang yang telah mati karena dibinasakan dengan segudang idealismenya. Para pahlawan tentunya, yang tidak mungkin lagi akan tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Di sana ada Tan Malaka, Wiji Thukul, Marsinah, Fuad Muhammad Syarfuddin, Baharuddin Lopa dan Munir.

Tentunya buku ini tidak memiliki kecenderungan untuk menuduh siapapun. Dalam pengungkapan para pelakukan merupakan otoritas aparat penegak hukum. Namun, buku ini setidaknya dapat memberikan dukungan pada proses pengungkapan kasus-kasus tersebut. Sebagai pengingat, buku ini mencoba untuk mengingat kata-kata Milan Kundera, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa.

Untuk itulah, buku ini juga merupakan salah satu buku dokumentatif yang amat berharga. Buku yang dapat mengingatkan kepada seluruh penerus bangsa ingi tentang perjuangan dan pemikiran para tokoh pembarunya. Seseorang yang amat berjasa namun namanya tidak akan pernah tercatat dalam coretan tinta sejarah perjuangan dalam perjalanan bangsa Indonesia ini.

Selain itu, menyiratkan satu hal yang teramat penting bagi bangsa Indonesia, kini dan esok. Tuntasnya semua kasus yang ada dengan transparan serta diadilinya para pelaku sesuai dengan hukum yang ada akan menjadi anteseden bagi sebuah kehidupan baru negeri ini yang bermoral dan beradab. Semoga!

*) Ahmad Makki Hasan
Aktivis PMII Kota Malang dan Mahasiswa PPs. UIN Malang