sepak-bola.jpg

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Lagi, lagi dan lagi. Dalam setiap pehelatan laga sepak bola Indonesia, kata risuh seakan-akan tidak pernah absen. Pada pertandingan semi final liga Indonesia Persija – Jakarta vs Sriwijaya – Palembang Rabu, 6 Februari 2008 lalu, para suporter bola mania Indonesia kembali menunjukkan kebiasaannya. Akibat kekalahan tim kesayangannya, tak lupa mereka berbuat ulah dan onar untuk melampiaskan kekecewaannya. Tepat sebulan yang lalu, yakni tanggal 8 Januari 2008, kasus yang sama juga terjadi pada pertandingan perempat final liga Indonesia antara Persik – Kediri dan Arema – Malang. Dan masih banyak lagi kejadian serupa  lainnya.

Sikap ricuh para pendukung tim kesayangan yang sering dikenal dengan suporter mania ini memang memiliki kebiasaan tersendiri. Sebuah kebiasaan yang hanya ada di Indonesia dalam olah raga yang banyak digandrungi di seluruh dunia, Sepak Bola. Walau ada tapi sangat jarang, kebiasaan para suporter yang ber-ulah atas kekalahan tim kesayangannya. Mulai dari membuat kegaduhan, saling cemooh antar pendukung hingga saling lempar yang berbuntuk anarkis.

Jika demikian adanya, maka jelas ada beda antara sepak bola kita di Indonesia dengan sepak bola di luar. Terlebih berbicara tentang para pendukung tim kesayangannya masing-masing. Suatu perbedaan mendasar yang memberikan kareteristik tersendiri dalam dunia sepak bola Indonesia. Adalah Risuh, Sepak Bola Khas Indonesia. Ya! Risuh, Itulah mungkin yang sangat pas kita sandang sebagai suporter sepak bola di Indonesia. Jika kita senang dengan predikat itu, pastilah kita harus mempertahankannya bukan! Namun, berbanggakah kita dengan gelar semacam itu? Mari kita coba renungkan kembali…!

*) Ahmad Makki Hasan
ahmadmakkih@yahoo.com (Malang – Jatim)