Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Revolusi Tibet (Fakta, Intrik dan Politik Kepentingan Tibet-China-Amerika Serikat)
Penulis : Nurani Soyomukti
Penerbit : Garasi – Yogyakarta
Cetakan I : Mei – 2008
Tebal : 136 halaman

Aksi protes anti-China yang terjadi di Ibu Kota Tibet, Lhasa, pada 10 Maret 2008 lalu begitu mengundang perhatian banyak orang di segala penjuru dunia. Bagi pemerintah China sendiri, kejadian di Tibet tersebut adalah persoalan domestik. Kebetulan Cina akan menjadi tuan rumah pesta olah raga dunia di Beijing atau yang dikenal dengan Olimpiade Beijing pada Agustus 2008 mendatang tentu mendapat tantangan tersendiri.Tak heran, untuk melenyapkan unjukrasa anti-China itu, pemerintah China akhirnya melakukan berbagai cara, termasuk melakukan tindak kekerasan, bahkan untuk beberapa waktu Tibet sempat diisolasi dan tertutup bagi media massa dan orang asing termasuk para wisatawan.

Kebijakan memberlakukan tindakan represif dan tak kenal prikemanusiaan dai aparat keamanan China dalam mengatasi kerusuhan itulah yang dipegang teguh dunia sebagai alasan untuk melakukan protes keras terhadap China. Tekanan keras dari masyarakat internasional atas kekerasan dan penutupan akses ke Tibet terus mendapat kecaman di mata dunia. Diantaranya dengan adanya ancaman para kepala negara Barat, khususnya Presiden Prancis, Nicholas Sarkozy, yang tengah menimbang-nimbang untuk memboikot Olimpiade.

Merasa mendapat kecaman masyarakat internasional, pemerintah China menuduh Dalai Lama yang merupakan pemimpin pemerintahan Tibet yang masih berada di pengasingan sebagai tokoh di balik munculnya aksi protes anti-China itu. Namun, dengan tegas Dalai Lama menolak tuduhan tersebut dan ia menyatakan diri mundur dari jabatannya sebagai pemimpin pemerintahan Tibet jika kerusuhan anti-China di Tibet terus memburuk. Dalai Lama tak pernah berhenti menyatakan bahwa dalam perjuangannya ia tidak pernah melakukan kekerasan. Tibet sendiri selama ini telah dikenal sebagai negeri para biksu Buddha yang memiliki paham perdamaian atau ahimsa.

Dikalangan masyarakat China sendiri, khususnya bagi publik di wilayah Barat beranggapan bahwa persepsi boikot atas Olimpiade adalah tidak lain untuk menghukum rezim otoritas Partai Komunis China (PKC) yang antidemokrasi dan pelanggar HAM. Dengan semangat nasionalisme yang menggebu, dan memang dipompakan pemerintah, Olimpiade lebih merupakan lambang kejayaan China di pentas internasional ketimbang demi kejayaan komunisme ataupun PKC.

Akibatnya, banyak yang berpikir emosional dan memandang Tibet dan Dalai Lama sebagai tak lebih dari mainan Barat untuk merebut kebanggaan internasional ini dari tangan rakyat China. Jadi, Dalai Lama dan para pengikutnya sama saja dengan Chen Shui-bian yang pernah berkuasa selama delapan tahun di Taiwan. Yaitu kaum separatis dan splittist yang berniat memisahkan diri dan membentuk sebuah negara. Itulah sebabnya propaganda dalam mendiskreditkan Dalai Lama difokuskan pada sasarannya sebagai pemberontak dan boneka. Tapi, Dalai Lama menghadapi serangan mesin propaganda China ini dengan sabar. Tidak emosional. Dalam berbagai pernyataan, ia menekankan bahwa dia dan para pengikutnya sudah lama meninggalkan cita-cita untuk menciptakan negara Tibet sendiri.

Setelah diusut lebih mendalam, tenyata memang jelas ada keterlibatan Amerika Serikat lewat CIA dan media korporatifnya yang turut andil dan bermain di balik membaranya Tibet mulai dari setengah abad yang lalu hingga bergolaknya kembali Tibet pada beberapa waktu lalu. Pada tragedi baru-baru ini jelas bahwa intrik politik Amerika Serikat dan Barat iri dengan China, sehingga ingin mempermalukan China melalu kasus Tibet di tengah perhelatan Olimpiade Beijing 2008.

Mengingat naiknya China sebagai raksasa baru ekonomi dari kawasan Asia tentu merupakan ancaman baru terhadap hegemoni Amerika Serikat di wilayah ini. Karenanya, masalah Tibet tidak lepas dari pengaruh wilayah China. Amerika Serikat sejak awal tidak henti-hentinya membantu perjuangan rakyat Tibet untuk melepaskan diri dari China. Mungkin kalau Tibet merdeka, Amerika Serikat akan dapat masuk ke wilayah itu untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya alamnya. Karena memang Tibet ditaksir tengah menyimpan jutaan mineral dan minyak seharga jutaan atau bahkan miliaran dolar.

Karena itu, dalam buku yang ditulis oleh Nurani Soyomukti dengan judul “Revolusi Tibet: Fakta, Intrik dan Politik Kepentingan Tibet-China-Amerika Serikat” ini, diungkapkan secara singkat segala bentuk fakta, intrik dan politik antara Tibet, China dan Amerika Serikat. Dalam bahasan buku ini, disertai pula berbagai bukti dan babakan sejarah yang sangat rasional, sistematis dan komprehensif. Meskipun dibahas dalam buku yang tidak terlalu tebal tentunya, namun uraian dan penjabarannya menjadikan setiap para pembacanya bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi selama ini di Tibet?

Dengan mengkaitkan peringatan Hari Perlawanan Tibet terhadap invasi China pada tanggal 10 Maret 1959,  aksi damai para biksu pada 10 Maret 2008 berubah menjadi gejolak baru karena pemerintah China secara spontan bereaksi keras dan membabi buta. Dengan wacana bahwa Tibet  akan mengusung kembali untuk memerdekakan diri dan melepaskan diri dari China. Tidakkah pergolakan itu tentunya merupakan bagian dari sejarah dunia atau tepatnya telah dirancang sedemikian rupa oleh aktor-aktor global dengan tujuan menciptakan dinamika politik yang nantinya diharapkan menguntungkan bagi mereka yang menciptakan skenario ini?

Sebagai negeri di balik salju atau dikenal pula sebagai negeri atap dunia itu, Tibet memang banyak menyimpang segudang misteri yang masih tidak terjamah oleh kasat pengamatan banyak orang sekarang ini. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa Dalai Lama dikenal sangat dekat dengan Amerika Serikat bahkan beberapa kali sempat bertemu dengan Bush. Sosok pemimpin spiritual Tibet yang dianggap suci yang ternyata juga menyimpan banyak hal di kaki-kaki Istana Potala yang megah itu.

Dengan membaca buku ini setidaknya terkuat korporasi banyak kepentingan yang melibatkan beberapa negara. Terungkap jelas bahwa pergolakan yang terjadi di Tibet selama ini tidak semata-mata muncul begitu saja. Seperti halnya rahasia di balik timbunan salju yang sangat tebal di kaki Himalaya yang ternyata terdapat tarik-ulur kepentingan beberapa negara, khususnya Amerika Serikat dan tentunya bagi China sendiri.
*) Ahmad Makki Hasan
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Iklan