Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Wawasan Pendidikan (Sebuah Pengantar Pendidikan)
Penulis : Suparlan Suhartono, Ph.D.
Penerbit : Ar-Ruzz Media – Yogyakarta
Cetakan I : Maret – 2008
Tebal : 158 halaman

Perbincangan seputar pendidikan memang tidak akan pernah sampai pada titik finish. Perkembangan dunia hingga kini jelas tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan pendidikan. Tak heran ketika ada kalimat yang menyebutkan bahwa dengan pendidikan yang maju niscaya akan maju pula bangsa itu. Sebaliknya ketika pendidikan di suatu bangsa tidak berkembang maka dapat dipastikan bangsanya terbelakang. Pendidikan sebagai akar dan hakikat kehidupan manusia dan bertujuan memfasilitasi pencapaian tujuan kehidupan manusia itu sendiri.

Selama manusia masih ada, perdebatan tentang pendidikan akan tetap eksis yang selalu berkembang. Permasalahan-permasahan kependidikan mulai dari tingkat filosofis hingga keilmuan akan menjadi nafas manusia. Karena itu, tanpa disadari ada sebuah tanggung jawab untuk mengetengahkan apa dan bagaimana pendidikan sejati itu seharusnya di konstruksi.

Namun selama ini, ada indikasi masyarakat Indonesia sudah melupakan akan hakikat pendidikan yang sejati itu. Digantikannya dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil da mengutamakan hal-hal yang sangat rendah dan hampa nilai-nilai filosofis akan hakikat sebuah pendidikan itu sendiri.

Buku yang kini hadir di tengah-tengah kita mencoba untuk mengisi kembali atas kekosongan wacana-wacana baru yang perlu untuk direnungkan kembali. Suparlan Suharnoto, penulis buku ini dengan judul Wawasan Pendidikan (Sebuah Pengantar Pendidikan), menawarkan sudut pandang yang berbeda atas berbagai persoalan akan pendidikan dewasa ini. Khususnya dalam dunia pendidikan di tanah air yang masih terstigma terbelakang dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Menjadikan buku ini amat penting untuk kita jadikan referensi bersama.

Memberikan koreksi atau pemikiran kembali mengenai ide, konsep, teori dan praktik penyelenggaraan pendidikan dirasa oleh penulis masih amat dibutuhkan. Bukan karena pendidikan kita masih tertinggal jauh dengan negara lain tapi karena pendidikan yang selalu berkembang secara berkala. Kita tidak boleh terlena dengan apa yang telah dapat kita lakukan, namun harus terus ada upaya pengembangan yang berpandangan jauh ke depan.

Tidak heran jika di negara-negara maju, penyelenggaraan pendidikan telah membuktikan hasil nyata. Dalam beberapa abad terakhir ini perkembangan pendidikan di dunia mengalami kemajuan pesat dan spektakuler terutama dalam hal rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Mendorong kehidupan masyarakat menjadi industrialistik. Segala kebutuhan hidup bermasyarakat dapat terpenuhi secara lebih mudaj dalam waktu yang cepat dan praktis. Era teknologi dan perindustrian, sebagai cermin kemajuan pendidikan itu, di sisi berlawanan, justru mengakibatkan masyarakat manusia menjadi terbelah menjadi dua bagian.

Bagian pertama, mereka yang berkesempatan menikmati hasil teknolohi dan perindustrian, namun kelompok ini hanya dalam jumlah minor. Sebaliknya, pada bagian kedua, dipadati dengan mereka yang menanggung penderintaan hebat. Parahnya lagi bagian ini ada dalam jumlah yang teramat banyak. Padahal kemajuan pendidikan seharusnya berkonsekuensi munculnya kesetaraan taraf kehidupan, terutama pada aspek sosial-perekonomian.

Ulasan yang teramat singkat dan bahasan yang cukup luas mencerminkan buku ini masih diperlukan ada kajian yang mendalam. Meletakkan dasar-dasar pemikiran pada langkah-langkah praktis menjadi tuntutan dalam melakukan perubahan pendidikan kita di tanah air kini. Namun yang jelas, paling tidak, dengan buku ini kita dapat memulai perubahan pada dunia pendidikan kita yang jauh dari harapan bersama.

Dengan merenungi setiap jejak langkah kehidupan tentu kita tetap bisa mengarungi dunia pendidikan yang hakiki. Bertindak seperti nilai-nilai pendidikan yang telah diajarkan selama ini dari akar budaya lelehur bangsa ini. Bukan malah mengubah landasan filosofis pendidikan dengan nilai-nilai pragmatis dalam kehidupan nyata dan hampa belaka. Semoga!

*) Ahmad Makki Hasan

Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang dan Guru SMA Negeri 1 Kota Malang