Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Pendidikan Multikultural (Konsep dan Aplikasi)
Penulis : Ngainun Naim dan Achmad Sauqi
Penerbit : Ar-Ruzz Media – Yogyakarta
Cetakan I : Juni – 2008
Tebal : 248 halaman

Pendidikan seutuhnya merupakan hal yang sangat vital. Terlebih bagi pembentukan karakter sebuah peradaban yang selalu mengiringnya. Tanpa adanya pendidikan, sebuah bangsa atau masyarakat tentu tidak akan pernah mendapatkan sebuah kemajuannya. Karena itu, suatu peradaban yang memberdayakan dari sebuah pola pendidikan dalam skala luas akan menghasilkan pendidikan tepat guna dan efektif serta mampu menjawab tantangan zaman. Namun, melihat fenomena dalam pendidikan nasional kita, ternyata pendidikan yang tepat guna itu tidak berjalan dan bahkan mungkin ada yang salah dalam menerapkannya.

Diantaranya, dengan banyaknya peristiwa kekerasan yang terjadi di negeri ini. Kebanyakan dari kita justru tidak peduli atau tidak mau tahu sedikit pun dengan kejadian-kejadian tersebut. Padahal jelas sekali bahwa peristiwa tersebut adalah sangat merisaukan, baik pada tingkat kehidupan  pribadi maupun kehidupan bernegara. Banyak contoh kekerasan yang mengatasnamakan agama atau ideologi tertentu yang berujung pada penyerangan, perusakan, pembakaran, penangkapan hingga intimidasi terhadap seseorang atau kelompok-kelompok tertentu.

Kejadian ini menjadi semakin meresahkan, ketika aparat keamanan yang mestinya menjaga ketertiban, justru membiarkan dan bahkan terkesan memberikan dukungan terhadap berbagai tindakan destruktif tersebut. Hal lain yang membuat miris hati kita adalah, peristiwa kekerasan seperti diatas cenderung semakin meningkat. Termasuk dalam praktik dunia pendidikan kita. Seakan menegaskan bahwa pendidikan selama ini tidak ubahnya sebagai pabrik intelektual an sich, namun dangkal dan kering akan perikemanusiaannya.

Mengidentifikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari nilai-nilai luhurnya. Digantikannya dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentuasinya terletak pada pembentukan wawasan para intelektual yang hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya.

Buku “Pendidikan Multikultural (Konsep dan Aplikasi)” karya Ngainum Naim dan Achmad Sauqi ini membahas dasar-dasar pendidikan pluralis-multikultural beserta segala aspek teori dan kerangka operasionalnya. Dengan ulasan dan bahasan yang cukup sistematis dan kritis baik dalam ranah konsep maupun praktis atau aplikasinya, menjadikan buku ini berhasil menampilkan esensi (ruh) pendidikan sejati. Harapan yang ingin diwujudkan adalah sebuah kehidupan yang harmoni, damai, selaras dan berperadaban dengan selalu mengedepankan semangat saling kerjasama dan gotong-royong.

Mengingat kecenderungan kehidupan kita dewasa ini yang kian tampak sangat ekslusif dan individualistis. Hanya selalu mementingkan diri atau kelompoknya sendiri tanpa memandang diri atau kelompok lain yang juga membutuhkan kehidupan berdasarkan ideologi dan keyakinannya masing-masing dalam menjalani kehidupan ini. Sebuah hal yang ironi tentunya, karena hal itu bukan mustahil lagi akan melahirkan banyaknya penderitaan, permusuhan dan persaingan yang tidak sehat yang dapat mengarah kepada destruktivisme dan barbaritas. Baik dalam diri individu maupun kelompok atas nama berbagai dimensi kepetingan kehidupan. 

Pluralisme-Multikulturalisme sejatinya adalah sebuah gagasan teologis dalam menerima setiap perbedaan. Perbedaan yang meliputi diantaranya agama, gender, ras, kelas sosial, usia, bahasa dan termasuk pula perbedaan kemampuan atau keterampilan seseorang. Perbedaan-perbedaan yang -jika tidak dipahami secara bijak dan arif- rentang dan kerap menjangkit pada individu-individu manusia. Karena itu, kehidupan yang harmoni, inklusif dan toleran harus dapat diciptakan saat ini juga. Jika tidak diatasi secara cepat tentu akan sangat membahayakan eksistensi kemanusiaan manusia itu sendiri.

Dengan menerapkan pendidikan multikultural sejatinya tidak lain adalah mengidealkan sebuah dunia yang penuh pernghargaan akan hak-hak sesama manusia, termasuk dalam praktik dunia pendidikan kita. Dapat menerima segala perbedaan sebagai hal yang alamiah dan wajar. Bukan malah menjadikan alasan akan terjadinya tindakan-tindakan yang beraroma diskriminatif. Sebuah pola perilaku dan sikap hidup yang cenderung dikuasai oleh rasa iri hati, dengki dan buruk sangka.

Untuk itulah, dengan merenungi setiap jejak langkah kehidupan tentu kita tetap bisa mengarungi hakikat dunia pendidikan sejati. Bertindak seperti nilai-nilai pendidikan yang telah diajarkan selama ini dari akar budaya lelehur bangsa ini. Bukan malah mengubah landasan filosofis pendidikan dengan nilai-nilai pragmatis dalam kehidupan nyata dan hampa belaka. Intinya adalah suatu pendidikan haruslah diarahkan pada tujuan mulia, yakni menjadikan manusia yang cerdas, kreatif dan humanis.

Secara umum buku ini menyajikan gagasan-gagasan konstruktif dan mendetail dalam mengkritisi dunia pendidikan dewasa ini. Percikan pemikiran yang dilontarkan sebagai langkah upaya strategis guna melakukan rekonstruksi pemikiran pendidikan yang lebih pluralis-multikultural. Ruh pendidikan yang memang seharusnya tidak hanya mengedepankan nilai-nilai humanis dan beradab namun juga mampu membaca kondisi riil masyarakat di dunia global saat ini serta berwawasan masa depan. Menjadikan buku ini teramat penting untuk kiranya dapat kita jadikan referensi bersama.

Setidaknya dalam buku ini, mengajak seorang guru, dosen, mahasiswa, ahli pendidikan, pengambil kebijakan dunia pendidikan dan tentunya juga bagi masyarakat umum dituntut untuk memiliki karakter multikulturalisme. Dengan kata lain, masa depan bangsa ini tergantung kepada kondisi pendidikan hari ini. Karena itu, melalui buku ini, paling tidak kita dapat menjadikan bangsa ini lebih berhasil memanusiakan insan pendidikan secara manusiawi dan juga berintelektual tinggi serta selalu bersikap demokratis, pluralis dan humanis secara sekaligus. Sebuah mimpi yang tentu tidak sekedar menjadi utopia belaka, namun kita harus mencoba mewujudkannya sekarang juga.

*) Ahmad Makki Hasan
Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang dan Guru SMA Negeri 1 Kota Malang.