cover-buku-pendidikan-yang-memerdekakan-siswa1Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Pendidikan yang Memerdekakan Siswa
Penulis : Ign. Gatut Saksono
Penerbit : Rumah Belajar Yabinkas – Yogyakarta
Cetakan I : Oktober – 2008
Tebal : x + 153 halaman

Pendidikan kita dewasa ini ditengarai telah bergeser dari cita-cita semula. Cita-cita sebagaimana yang telah diamanatkan dalam konstitusi bangsa ini untuk mencerdaskan anak bangsa. Bukan malah menyiapkan siswa untuk semata-mata hanya siap untuk terjun ke dalam “pasar”. Sehingga pendidikan tidak lagi membentuk pribadi-pribadi yang memiliki kreativitas dan kemampuan berpikir kritis yang mampu menghadapi tantangan masa depan yang kompetitif. Melainkan menjadikan anak didik kita menjadi buta terhadap dunia kapitalisme yang tengah menghegemoni dunia. Sehingga mereka terperosok pada ideologi hedonis dan tidak lagi dapat bernalar kritis.

Pendidikan seutuhnya merupakan hal yang sangat vital. Terlebih bagi pembentukan karakter sebuah peradaban yang selalu mengiringnya. Tanpa adanya pendidikan, sebuah bangsa atau masyarakat tentu tidak akan pernah mendapatkan sebuah kemajuannya. Karena itu, suatu peradaban yang memberdayakan dari sebuah pola pendidikan dalam skala luas akan menghasilkan pendidikan tepat guna dan efektif serta mampu menjawab tantangan zaman. Namun, melihat fenomena dalam pendidikan nasional kita, ternyata pendidikan yang tepat guna itu tidak berjalan dan bahkan mungkin ada yang salah dalam menerapkannya.

Hal inilah yang mengidentifikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari cita-cita luhurnya. Digantikannya dengan pendidikan yang melahirkan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentuasinya terletak pada pembentukan wawasan para intelektual yang hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya.

Buku “Pendidikan yang Memerdekakan Siswa” karya Ign. Gatut Saksono ini membahas dasar-dasar pendidikan sejatinya serta segala aspek idelogi dan kerangka berfikirnya. Dengan dasar pemikiran para tokoh pendidikan seperti Ivan Illich, Paulo Freire, Ki Hadjar Dewantara, Mangunwijaya, Ahmad Dahlan, dll, menjadikan ulasan dan bahasan dalam buku ini cukup sistematis dan kritis. Menjadikan buku ini menampilkan esensi (ruh) pendidikan sejatinya. Harapan yang ingin diwujudkan dari sebuah pendidikan tidak lain adalah sebuah kehidupan yang harmoni, damai, selaras dan berperadaban dengan selalu mengedepankan semangat saling kerjasama dan gotong-royong.

Mengingat kecenderungan kehidupan kita dewasa ini yang kian tampak sangat ekslusif dan individualistis. Hanya selalu mementingkan diri atau kelompoknya sendiri tanpa memandang diri atau kelompok lain yang juga membutuhkan kehidupan berdasarkan ideologi dan keyakinannya masing-masing dalam menjalani kehidupan ini. Sebuah hal yang ironi tentunya, karena hal itu bukan mustahil lagi akan melahirkan banyaknya penderitaan, permusuhan dan persaingan yang tidak sehat yang dapat mengarah kepada destruktivisme dan barbaritas. Baik dalam diri individu maupun kelompok atas nama berbagai dimensi kepetingan kehidupan. 

Dengan menerapkan pendidikan yang memerdekakan siswa sejatinya tidak lain adalah mengidealkan sebuah dunia pendidikan yang penuh dengan pernghargaan akan hak-hak sesama manusia, termasuk dalam praktik dunia pendidikan kita. Dapat menerima segala perbedaan sebagai hal yang alamiah dan wajar. Bukan malah menjadikan alasan akan terjadinya tindakan-tindakan yang beraroma diskriminatif. Sebuah pola perilaku dan sikap hidup yang cenderung dikuasai oleh rasa iri hati, dengki dan buruk sangka.

Untuk itulah, dengan merenungi setiap jejak langkah kehidupan tentu kita tetap bisa mengarungi hakikat dunia pendidikan sejati. Bertindak seperti nilai-nilai pendidikan yang telah diajarkan selama ini dari akar budaya lelehur bangsa ini. Bukan malah mengubah landasan filosofis pendidikan dengan nilai-nilai pragmatis dalam kehidupan nyata dan hampa belaka. Intinya adalah suatu pendidikan haruslah diarahkan pada tujuan mulia, yakni menjadikan manusia yang cerdas, kreatif dan humanis. Oleh karena itu guru tentunya menjadi pusat segalanya, maka merupakan hal yang lumrah jika peserta didiknya kemudian mengidentifikasikan diri seperti dirinya sebagai prototip manusia ideal yang harus ditiru dan digugu (dijadikan contoh), harus diteladani dalam semua hal.

Secara umum buku ini menyajikan gagasan-gagasan konstruktif dan mendetail dalam mengkritisi dunia pendidikan dewasa ini. Percikan pemikiran dari para tokoh yang dilontarkan oleh penulis buku ini tidak lain adalah sebagai langkah upaya strategis guna melakukan rekonstruksi pemikiran pendidikan yang lebih utuh. Cita-cita pendidikan yang memang seharusnya tidak hanya mengedepankan nilai-nilai humanis dan beradab namun juga mampu membaca kondisi riil masyarakat di dunia global saat ini serta berwawasan masa depan. Menjadikan buku ini teramat penting untuk kiranya dapat kita jadikan referensi bersama.

Setidaknya dalam buku ini, mengajak seorang guru, dosen, mahasiswa, ahli pendidikan, pengambil kebijakan dunia pendidikan dan tentunya juga bagi masyarakat umum dituntut untuk memiliki karakter tut wuri handayani. Dengan kata lain, masa depan bangsa ini tergantung kepada kondisi pendidikan hari ini. Karena itu, melalui buku ini, paling tidak kita dapat menjadikan bangsa ini lebih berhasil memanusiakan insan pendidikan secara manusiawi dan juga berintelektual tinggi serta selalu bersikap demokratis, pluralis dan humanis secara sekaligus. Sebuah mimpi yang tentu tidak sekedar menjadi utopia belaka, namun kita harus mencoba mewujudkannya sekarang juga.

*) Ahmad Makki Hasan
Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang dan Guru SMA Negeri 1 Kota Malang.