cover-buku-menggugat-pendidikan-indonesiaOleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Menggugat Pendidikan Indonesia (Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara)
Penulis : Moh. Yamin
Penerbit : Ar-Ruzz Media – Yogyakarta
Cetakan I : Januari – 2009
Tebal : 300 halaman

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat vital bagi pembentukan karakter sebuah peradaban dan kemajuan yang mengirinya. Termasuk bangsa ini yang kini tengah menunggu peran implementasi pendidikan yang mencerdaskan, membawa kehidupan bangsa yang beradab, berdaya saing tinggi, berkualitas dan mandiri. Sebagaimana yang telah diamantkan dalam konstitusi negara ini untuk melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya.

Sayangnya, cita-cita sebagaimana yang telah diamanatkan dalam konstitusi bangsa ini seakan masih jauh dari harapan bersama. Sejarah pendidikan di negeri ini justru selalu diwarnai berbagai kepentingan politik praktis dan menjadi kerdil atas ulah segelintir orang. Hal ini menunjukkan disorientasi pendidikan nasional kian menjadi nyata adanya. Tak heran ketika pendidikan Indonesia hari ini tidak mampu melakukan hal-hal yang konstruktif. Justru menjadi buta terhadap dunia kapitalis yang tengah menghegemoninya, sehingga terjerumus pada ideologi hedonis dan tidak lagi dapat bernalar kritis.

Sebut saja di masa orde baru misalnya, pendidikan di Indonesia diarahkan sebagai alat pembenaran kroni-kroninya. Dunia kampus pun dibungkam dan dipasung kreativitasnya agar tidak bersuara lantang dan membahayakan kekuasaan para penguasa. Pun ketika era reformasi telah bergulir, pendidikan di negeri ini belum beranjak dari keterpurukan. Pendidikan pascareformasi justru diarahkan pada pendidikan yang komersialis. Pendidikan dianggap sebagai produk kapitalis yang diharapkan mampu menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya bagi pemilik modal. Otonomi pendidikan yang diserahkan kepada pihak tingkat satuan pendidikan hanya menambah keruwetan yang lagi-lagi peserta didik yang menjadi korban dan tumbalnya.

Hal inilah yang mengidentifikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari cita-cita luhurnya. Digantikannya dengan pendidikan yang melahirkan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentuasinya terletak pada pembentukan wawasan para intelektual yang hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Buku “Menggugat Pendidikan Indonesia” karya Moh. Yamin ini membongkar arogansi pendidikan nasional yang selalu diarahkan untuk membenarkan kepentingan penguasa dan kroni-kroninya. Pendidikan yang malah berada dalam penjara kekuasaan sehingga ia pun tidak bisa meningkatkan kualitas bangsa ini. Dengan berdasarkan pada pemikiran para tokoh pendidikan seperti Paulo Freire dam Ki Hadjar Dewantara menjadikan ulasan dan bahasan dalam buku ini cukup sistematis dan kritis. Menjadikan buku ini menampilkan esensi (ruh) pendidikan sejatinya. Harapan yang ingin diwujudkan dari sebuah pendidikan tidak lain adalah sebuah kehidupan yang harmoni, damai, selaras dan berperadaban dengan selalu mengedepankan semangat saling kerjasama dan gotong-royong.

Ulasan dan bahasan yang cukup luas mencerminkan buku ini cukup serius memberikan tawaran-tawaran gagasan dengan berupaya melakukan skema penjelasan secara rinci. Namun, apapun itu semua, buku ini tentu masih diperlukan ada kajian yang mendalam. Meletakkan dasar-dasar pemikiran pendidikan pada langkah-langkah praktis pendidikan kita menjadi tuntutan dalam melakukan perubahan pendidikan di tanah air dewasa ini. Namun yang jelas, paling tidak, dengan buku ini kita dapat memulai untuk melakukan perubahan pada dunia pendidikan kita yang kini masih jauh dari harapan kita bersama. Memberikan koreksi atau pemikiran kembali mengenai ide, konsep, teori dan praktik penyelenggaraan pendidikan nasional yang dirasa oleh penulis buku ini amat mendesak.

Penulis buku ini yang juga sebagai praktisi pendidikan yang peka pada kondisi pendidikan di tanah air mengajak kita semua untuk merenungkan kembali hakikat makna pendidikan bagi pembentukan karakter bangsa. Mengajak seraya memaksa kepada kita semua yang pedulia pada pendidikan di tanah air untuk bersama-sama melihat realitas pendidikan yang terjadi di negeri ini sejak Orde Lama hingga Orde Reformasi. Menengok dan mengupas tuntas konsep pendidikan Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara agar dapat kembali dihadirkan dalam pendidikan kita hari ini. Lebih-lebih mengajak kita semua untuk melakukan upaya-upaya bersama untuk melakukan penyelamatan pada pendidikan bangsa saat ini.

Cita-cita pendidikan yang memang seharusnya tidak hanya mengedepankan nilai-nilai humanis dan beradab namun juga mampu membaca kondisi riil masyarakat di dunia global saat ini serta berwawasan masa depan. Dengan kata lain, masa depan bangsa ini tergantung kepada kondisi pendidikan hari ini. Karena itu, melalui buku ini, setidaknya kita dapat memulai untuk menjadikan bangsa ini lebih berhasil memanusiakan insan pendidikan secara manusiawi dan juga berintelektual tinggi serta selalu bersikap demokratis, pluralis dan humanis secara sekaligus. Sebuah mimpi yang tentu tidak sekedar menjadi utopia belaka, namun kita harus mencoba mewujudkannya sekarang juga.

*) Ahmad Makki Hasan
Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang dan Guru SMA Negeri 1 Kota Malang