Cover Buku Iklan Politik dalam Realitas MediaOleh: Ahmad Makki Hasan*

Judul : Iklan Politik Dalam Realitas Media
Penulis : Sumbo Tinarbuko
Pengantar : Yasraf A. Piliang
Penerbit : Jalasutra – Yogyakarta
Cetakan I : Maret – 2009
Tebal : xx + 120 halaman

Kampanye dengan beriklan secara besar-besaran yang membutuhkan biaya tinggi dianggap mampu mendongkrak popularitas. Itulah yang seakan menjadi matra bagi setiap partai politik dan para calon legislatif bahkan calon presiden dan calon wakil presiden untuk mencuri pilihan politik masyarakat pada abad teknologi informasi dan komunikasi ini. Citra politik seorang tokoh dibangun dengan instan melalui aneka macam media baik cetak maupun elektronik. Melalui mantra itu, diharapkan persepsi, pandangan dan sikap politik masyarakat bisa dibentuk sedemikian rupa. Tujuannya tiada lain agar dapat mendongkrak perolehan suara berlipat ganda.

Pemilu kali ini menjelma menjadi politik pencitraan yang lebih merayakan citra ketimbang kompetensi yang dimiliki. Pencitraan diri yang kemudian disebarluaskan melalui berbagai macam bentuk media dengan sendirinya akan menggiring pada sikap narsisisme, simplisisme dan nihilisme dalam berpolitik. Adalah kecenderungan pemujaan diri yang berlebihan para elit politik dalam membangun citra diri meskipun itu jelas bukan realitas diri yang sesungguhnya. Dekat dengan petani, pembela wong cilik, akrab dengan pedangan pasar, pemimpin bertakwa, penjaga keutuhan bangsa, pemberantas korupsi dan segudang lagi bentuk pencitraan diri yang penuh kebohongan.

Jika ditelusuri lebih dalam, iklan politik dengan cara memajang wajah justru mengindikasikan mereka tidak merakyat. Wajah mereka tak ubahnya menjadi komoditas yang dijual layaknya seorang artis. Padahal bagi masyarakat, yang terpenting adalah kerja nyata dan bukan tampang, citra apalagi sekedar nama tenar. Sepatutnya seseorang yang ingin terjun ke dunia politik dan ingin dikenal masyarakat, mereka harus mau kerja keras dan hasil kerja kerasnya itulah yang dijadikan modal utamanya. Sedangkan iklan politik hanyalah upaya memperkenalkan diri kepada publik dan tidak lebih dari itu.

Buku “Iklan Politik dalam Realitas Media” ini menjabarkan pembahasan secara tuntas tentang iklan politik di media. Penulis dengan jeli memaparkan secara tuntas dengan pisau bedah yang tajam mulai dari kampanye iklan politik, sampah visual hingga pelanggaran kampaye pemilu yang terjadi selama ini. Bahkan Sumbo Tinarbuko, penulis buku ini, juga mencoba memberikan solusi yang tepat untuk dapat menciptakan kampayen iklan politik yang baik dan yang terpenting adalah jujur. Bukan malah berisi janji-janji surga yang melulu cenderung menipu rakyat dengan berbagai bentuk manipulasi seperti yang terjadi saat ini .

Potret kampanye iklan partai politik dan para calon legislatif sampai saat ini yang masih minim substansi diuraikan dengan jelas dalam buku ini. Bankah penulis mensinyalir kecenderungannya malah pada bentuk-bentuk sikap narsisisme politik dari setiap kandidat yang ada. Sehingga belum bisa dianggap sebagai bentuk komunikasi politik yang ideal. Sebuah kampanye yang seharusnya mengedepankan kompentensi diri dan bukan dari sisi penampilan dan pencitraan yang jauh dari realitas sebenarnya. Selain itu, buku ini juga membahas seputar pengaruh iklan politik dalam perspektif desain komunikasi visual.

Iklan politik tiada lain adalah iklan yang menawarkan sesuatu berkaitan dengan politik itu sendiri. Sebagai salah satu alat komunikasi politik masa kini untuk menyampaikan pesan tentang partai politi mulai dari pandangan ideologis, visi dan misi yang dimiliki, program kerja hingga individu-individu yang ada di dalamnya. Disosialisasikan menggunakan media komunikasi visual yang dikemas sedemikian rupa sebagai media yang dapat menghubungkan antara kandidat tertentu dengan para calon pemilihnya. Pada tingkatan selanjutnya, hal tersebut ditargetkan pula dapat mendorong loyalitas para pendukung atau calon pemilihnya.

Fokus kajian dalam buku ini adalah secara lugas merefleksikan hubungan iklan politik sebagai sebuah realitas kedua (second reality) dengan aspek-aspek komunikasi visual yang berperan citra-citra yang ada di dalamnya. Termasuk relasi-relasi sosial dan kulturan yang terbangun atas dampak dari bentuk-bentuk kampaye politik di media. Mengingat kondisi politik di tanah air yang nyaris tanpa pencerahan dan daya kritis ini menjadikan buku ini diharapkan memiliki peran yang sangat penting. Terutama dalam membangun kembali kesadaran kritis (critical consciousness) dalam berpolitik bagi rakyat Indonesia ke depan.

Namun yang perlu ditegaskan kembali di sini adalah hanya dengan kesadaran kritis itulah, kelak masyarakat dapat menggunakan hak politiknya dengan cerdas. Dapat membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, citra dan substansi, penampilan luar dan kapasitas diri serta ilusi dan realitas politik. Dari gambaran utuh itulah, penulis buku ini dengan santun namun tegas mengajak kepada pembaca pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya untuk memilih dan memilah kampanye iklan politik yang sehat dan mendidik. Sebab, jika kampanye berjalan dengan baik dan kondusif, maka dapat dipastikan dapat menghasilkan pemerintahan yang baik pula. Sebuah pemilu yang mampu melahirkan pemerintahan yang kuat dan berwibawa di mata masyarakat.

Oleh sebab itu, apapun bentuk iklan politik yang disuguhkan kepada masyarakat dalam kampanye, seharusnya tetap mengedepankan moralitas, menjunjung tinggi kejujuran dan berperilaku sesuai kearifan lokal. Dalam era reformasi seperti saat ini, masyarakat dengan naluri hati masing-masing tidak akan terpengaruh oleh janji tokoh politik yang hanya manis di mulut namun pahit dalam realitas kesehariannya. Akhirnya partai politik dan tokoh politik yang layaklah yang akan mendapat amanat menjadi pemimpin bangsa ini ke depan. Mereka yang rela mengabdikan diri untuk mewujudkan rasa keadilan dan kesejahteraan seutuhnya bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga!

*) Ahmad Makki Hasan
Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang & Aktif di LSM MP3 (Masyarakat Peduli Pelayanan Publik).