Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Festival Malang Kembali (FMK) atau juga dikenal dengan Malang Tempo Doeloe (MTD) adalah agenda tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat Malang pada khususnya dan masyarakat Jawa Timur bahkan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya. Utamanya bagi mereka yang mempunyai kepedulian pada sejarah dan budaya lokal. Sebuah kegiatan yang tidak hanya memberikan nuansa hiburan pada rakyat, gelar kuliner tempo dulu, ajang temu antik, ajang fashion tempo dulu bahkan barang-barang bersejarah namun juga menjadi ajang pembelajaran budaya dan sejarah dihadirkan dalam kegiatan ini.

Sebuah kegiatan yang jarang diadakan atau bahkan tidak pernah ada di daerah-daerah lain kecuali hanya dapat ditemukan di Kota Malang, Kota Bunga sekaligus Kota Pendidikan Internasional ini. Acara yang mengemas secara apik dan menarik potret sejarah dengan berbagai budaya lokal bangsa dan rakyat Indonesia, khususnya yang berada di Malang Raya. Menghadirkan kembali ikon budaya lokal dan sejarah bangsa Indonesia secara umum yang kini tengah dirongrong oleh perkembangan zaman yang begitu cepat dari waktu ke waktu.

Jika melihat ke belakang, Malang di masa silam tentu tak se-mutakhir sekarang bila melihat dari perspektif sistem peradaban di multi sektoralnya. Tapi Malang yang dulu adalah representasi nusantara yang kini dikenal dengan istilah gemah ripah loh jinawi tentrem karto raharjo. Sebuah Kota kecil dengan ketinggian kurang lebih 600 dpl ini telah menyedot banyak perhatian banyak generasi sepanjang sejarahnya untuk menjadikan Malang sebagai Surga Dunia.

Pada tahun 2009 ini adalah kali ke empat pelaksanaan FMK digelar sejak pertama kali diadakan pada tahun 2006 lalu. Sebuah acara tahunan yang diprakarsai oleh pemerintah daerah Kota Malang. Festival Malang Kembali IV ini berlangsung sejak tanggal 21 dan berakhir pada tanggal 24 Mei 2009 lalu. Dibuka mulai pukul 10.00 Wib sampai dengan pukul 24.00 Wib dilokasi yang sama sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu di sepanjang Jalan Besar Ijen (Ijen Boulevard).

Tema yang diusung dalam FMK-IV ini adalah “Rekonstruksi Jati Diri”. Tema yang merupakan penyesuaian dari tahun yang diangkat, ialah mulai tahun 1938-1958. Kehidupan Kota Malang di tahun 1938-1958 seakan dihidupkan kembali dalam kegiatan MTD kali ini. Tahun 1938 adalah tahun transisi kota Malang dimana pengaruh pemerintahan kolonial saat itu harus terhenti.

Pembangunan jangka panjang yang dicanangkan dalam Bouwplan (rencana pengembangan kota) I-IV tahun 1928-1938 harus berhenti dan kemudian pembangunan lebih banyak diarahkan pada pembangunan pertahanan (bunker) seperti yang dilakukan pada Stasiun Kota Baru. Disini ada jalan terowongan di bawah rel kereta api yang sampai sekarang masih utuh. Sejarah yang ditampilkan di sepanjang Jalan Ijen akan mengacu pada tahun-tahun tersebut. Makanan, jajanan, pakaian, aksesoris, perabot, alat transportasi sampai trend mode masyarakat akan dihidupkan kembali. Tidak ketinggalan, tersuguh pula potret sistem pendidikan Malang pada kurun tersebut.

Pesta rakyat yang berkala tahunan ini tentu melibatkan seluruh elemen lapisan masyarakat. Mulai dari yang berada di jajaran birokrasi pemerintah, pengusaha menengah ke atas, pedangan kaki lima hingga masyarakat kecil pun tak lepas ikut meramaikan kegiatan ini pula. Termasuk bagi mereka para perjuang veteran yang pernah turut andil menghantarkan bangsa ini kepada pintu gerbang kemerdekaan rakyat Indonesia.

Dengan menyuguhkan panggung rakyat seperti wayang topeng, ketoprak, ludruk hingga keroncongan. Pengunjungnya dihipnotis pula dengan dipamerkannya benda-benda bersejarah dan purbakala. Termasuk diramaikan dengan adanya pasar rakyat yang di dalamnya menjual kuliner-kuliner kuno, jajanan lama, barang antik hingga pengobatan gratis termasuk pameran artefak-artefak di masa kerajaan kuno. Tentu masih banyak ragam aktivitas dan aksesoris lain yang dapat ditemukan pula selama festival ini berlangsung. Selain sebagai sebuah bentuk tujuan wisata jadi-jadian dan ajang ekonomi kreatif, kegiatan ini jauh lebih menarik dan sangat bermanfaat karena mampu menghadirkan nuansa sejarah dan budaya lokal masa lalu bangsa ini.

Walaupun memang terkesan glamor dengan sedikit hura-hura di tengah kesengsaraan rakyat kecil saat ini, akan tetapi sepanjang kegiatan FMK selama ini telah banyak mengundang perhatian masyarakat tidak hanya di daerah Malang Raya namun juga di seluruh pelosok tanah air bahkan tidak sedikit para wisatawan asing menyempatkan diri untuk menghadiri festival ini. Tak heran kerumunan semut manusia seakan-akan tumpah ruah di sepanjang jalan Besar Ijen pada setiap kegiatan ini berlangsung.

Kegiatan semacam ini harus terus digelar atau bila perlu diikuti oleh daerah-daerah lain. Karena itu telah dapat mengaktualiskan kembali potret kehidupan sejarah dan budaya nenek moyang kita baik dalam skala lokal maupun nasional. Dengan begitu dapat membangkitkan kembali semangat generasi muda bangsa Indonesia. Menumbuhkan inspirasi nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara bagi setiap pengunjungnya. Menanamkan rasa senasib dan seperjuangan sesama rakyat Indonesia. Sikap kebersamaan dan gotong royong sebagai bagian dari budaya masyarakat Indonesia yang kini kian luntur oleh arus globalisasi.

Menampilkan rekonstruksi warisan masa lalu tidak hanya menjadikan FMK ini sebagai ajang rekreasi sesaat, pelepas kejenuhan di sela-sela hiruk pikuk keriuhan Malang, namun juga menggali relevansi nilai-nilai yang tersimpan dibalik artefak-artefak masa lalu itu untuk disodorkan pada generasi saat ini dalam kemasan yang sejalan dengan peradaban kekinian. Dimana arus modernisasi telah membanjiri dan kian menyesaki Malang dengan barikade-barikade gedung tinggi. Bukankah selama ini modernisasi yang ditampilkan lewat sistem peradaban kontemporer telah mengebiri nilai-nilai tradisional yang notabene lebih beradab secara kemanusiaan?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai akan sejarahnya. Bangsa yang maju adalah bangsa yang masih mau mengenang jasa-jasa para pahlawannya. Bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang senantiasa melestarikan budayanya. Setidaknya dari tiga makna filosofi ungkapan itulah mungkin yang turut andil memberikan semangat dan motivasi serta dorongan besar bagi pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat Kota Malang dan Malang Raya untuk selalu melestarikan kegiatan tahunan dalam bingkai FMK atau MTD.

Tidak salah jika kemudian lewat pelaksanaan festival ini, masyarakat diharapkan merenungi kembali untuk menghargai sejarah dan budaya lokal. Mempertahankan budaya nenek moyang bangsa yang kini kian terkikis habis oleh budaya hedonis dan pragmatis dewasa ini. Seruan panitia kepada seluruh pengunjung untuk menghormati budaya sendiri dengan setidaknya memakai pakaian tradisional ketika berkunjung pada perhelatan ini patut diacungi jempol dan diapresiasi bersama. Sebagai salah satu wujud nyata bahwa identitas bangsa ini masih tertanam dalam setiap jiwa sanubari rakyatnya. Semoga!

*) Ahmad Makki Hasan, S.Hum.
Alumnus Fak. Humaniora dan Budaya UIN Malang, kini Guru SMA Negeri 1 Kota Malang & Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang.