COVER BUKU (SEKOLAH BUKAN PASAR)Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru)
Penulis : St. Kartono
Penerbit : Penerbit Buku Kompas – Jakarta
Cetakan Ke-1 : Juni 2009
Tebal : 221 halaman

Budaya titip, prioritas anak pejabat, surat sakti dan main uang seakan menjadi rahasia umum dalam setiap proses penerimaan siswa baru. Belum lagi dengan biaya daftar ulang, uang gedung, sumbangan pendidikan lainnya jika dinyatakan diterima. Ketika tahun pelajaran mulai berjalan, pengadaan seragam siswa dan buku pelajaran menjadi tarik ulur berbagai elemen untuk mencari keuntungan. Menjelang akhir tahun pelajaran ada lagi. Sebut saja misalnya program study tour. Rutinitas irama dalam setiap kalender pendidikan semacam itulah yang memberikan kesan komersialisasi dalam dunia pendidikan di tanah air.

Lewat paket buku pelajaran, kain seragam, alat tulis, biro wisata, lembaga kursus dan lain sebagainya seakan menjadi ladang manis nan subur bagi sekolah untuk mengeruk keuntungan. Disadari ataupun tidak itu semua tentu hanya akan menjadi beban masyarakat yang menjadi objek dari sederet pungutan tersebut. Sebuah bagian dari mekanisme tersistematis yang memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap proses pemiskinan masyarakat yang sudah miskin lewat dunia pendidikan.

Tak heran jika melihat fenomena putus sekolah masih tinggi bahkan kian meningkat setiap tahunnya. Faktor utamanya tidak lain tentu berbicara tentang persoalan ekonomi keluarga. Dengan biaya pendidikan yang masih tinggi ditambah berbagai pungutan dan mahalnya buku-buku pelajaran, hal itu tentu tidak dapat dipenuhi oleh orang tua siswa dengan penghasilan di bawah rata-rata.

Buku dengan judul “Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru)” karya St. Kartono ini mengupas secara tuntas berbagai persoalan dunia pendidikan di Indonesia yang belum juga ditemukan solusi konkritnya hingga detik ini. Menyajikan gagasan-gagasan konstruktif dan mendetail dalam mengkritisi dunia pendidikan kontemporer. Buku yang merupakan pustaka bunga rampai penulis yang telah mendedikasikan diri sebagai guru selama puluhan tahun ini menyiratkan banyaknya PR dunia pendidikan di Indonesia yang harus segera diselesaikan.

Hal yang paling mendasar adalah secara implisit penulis menegaskan bahwa fungsi pejabat departemen pendidikan, kepala sekolah dan guru adalah mendidik. Bukan sebagai pedagang, calo, makelar atau bahkan rentenir bagi berbagai produk industri sebagaimana yang terjadi selama ini. Sebagai agen pemberi kebijakan, pemberi kecerdasan kemanusiaan, pelatih kedewasaan bukan malah menjadi agen kebohongan dan ideologi yang disebarluaskan oleh birokrat pemegang keputusan.

Satu persoalan besar yang menjadi biang tidak kunjung majunya pendidikan di tanah air, salah satunya adalah sistem pengelolaan pendidikan mulai dari pusat hingga pada tingkat satuan pendidikan semuanya memakai pendekatan untung-rugi (baca: proyek). Tujuan mulia yang telah dirumuskan secara bersama hanya berhenti pada kepentingan menyangkut uang. Pada gilirannya, guru dan birokrat pendidikan lainnya sedekar sebagai pekerja yang terorganisir dengan berbagai motif kepentingan yang ada di dalamnya.

Bila itu semua tidak dapat teratasi dengan cepat, bukan hal yang mustahil sekolah akan tetap menjadi pasar paling potensial untuk dimasuki lewat birokrasi urusan pendidikan. Mengingat pencampuradukan peran-peran pendidik dengan calo tersebut akan merusak sistem pendidikan nasional. Tidak ada lagi perbedaan antara sekolah sebagai tempat mencari ilmu pengetahuan dengan pasar sebagai tempat berjual-beli. Sudah saatnya sekolah dibebaskan dari suasana bisnis yang dilakukan oleh siapa pun. Terlebih oleh birokrat pendidikan nasional, kepala sekolah atau bahkan guru itu sendiri dengan dalih apa pun jua.

Tulisan-tulisan dalam buku ini yang berjumlah lebih dari empat puluh terbagi menjadi tiga bagian dalam konteks yang berbeda-beda pula. Dimulai dari sorotan atas masalah-masalah Sekolah di Zaman Kini, Tergantung pada Guru dan yang terakhir adalah Mengajarkan Keutamaan. Bila ditarik benar merah ketiganya sebenarnya masih memiliki bahasan yang saling terkait satu dengan lainnya. Terlebih persoalan-persoalan yang dibahas dalam setiap tulisan dalam buku ini juga berulang layaknya irama persekolahan setiap tahun yang nyaris tidak ada perubahan dari tahun ke tahun.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, kehadiran buku ini tentunya diharapkan mampu menjadi otokritik dalam dinamika dunia pendidikan saat ini di Indonesia. Buku ini layak dibaca oleh semua orang lintas kalangan, orangtua yang anaknya sedang mengeyam pendidikan, pengambil kebijakan baik di pusat maupun di daerah, guru, pengamat pendidikan, birokrat dan mahasiswa. Terutama mereka yang peduli dan ingin mencerdaskan dan memajukan pendidikan di seantero jagad nusantara Indonesia tercinta ini. Selamat Membaca!

*) Ahmad Makki Hasan
Mahasiswa Program Pascasarjana UIN MMI Malang dan Guru di sebuah SMA Negeri Kota Malang.