(Refleksi Hari Pahlawan 10 Novermber)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

“Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda rakyat Indonesia
disuruh datang membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih,
tanda bahwa kita menyerah dan takluk kepada Inggris…”

“Inilah jawaban kita, jawaban pemuda-pemuda rakyat Indonesia:
Hai Inggris, selama banteng-banteng,
pemuda-pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih,
selama itu kita tidak akan menyerah…”

“Teman-temanku seperjuangan, terutama pemuda-pemuda Indonesia,
kita terus berjuang, kita usir kaum penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai ini.
Sudah lama kita menderita, diperas, diinjak-injak…”
“Sekarang adalah saatnya kita rebut kemerdekaan kita.
Kita bersemboyan: Kita Merdeka atau Mati.”

Pidato di atas tiada lain adalah bait kata-kata yang disampaikan oleh Sutomo atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Bung Tomo. Sosok pejuang asal Surabaya (baru setahun dinobatkan dalam deretan pahlawan nasional di negeri ini) yang terkenal dengan semboyannya “rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas”. Ketika membakar semangat arek-arek Suroboyo pada peristiwa pertempuran heroik menghalau masuknya kembali kolonialisme di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Tak salah ketika bangsa ini selalu memperingati Hari Pahlawan pada tiap tanggal 10 November dan Surabaya sebagai ikon Kota Pahlawan bangsa Indonesia.

Namun, sangat disayangkan sikap nasionalisme bahkan patriotisme kini mulai pudar serasa tak tersisa sedikit pun. Terutama pada benak para pemuda penerus bangsa ini. Bahkan boleh dikatakan tidak lagi menyatu dalam jiwa dan raga anak bangsa yang dulu selalu bersemai dalam setiap dada rakyat di seantero nusantara pra dan pasca kemerdekaan. Ratusan tahun lamanya bangsa Indonesia diduduki oleh kolonialisme. Kekayaan bangsa pun dirampas habis. Sampai-sampai ribuan bahkan jutaan nyawa terenggut untuk membebaskan kita dari belenggu penjajahan. Akankah kita sebegitu mudah melupakan jasa-jasa besar mereka bagi bangsa kita Indonesia ini?

Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November sesungguhnya bukan hanya milik warga kota Surabaya, melainkan milik bangsa Indonesia. Ketika kota Surabaya dikukuhkan sebagai Kota Pahlawan, maka hal itu menjadi suatu inspirasi bagi bangsa ini agar menjadi produktif menatap masa depan. Karena memang pahlawan atau pejuang sejati tidak membutuhkan penghargaan atau apresiasi. Tetapi sebagai bangsa yang beradab, seharusnya kita menghargai jasa-jasa para pahlawan secara proporsional. Ir. Soekarno mengatakan, “Pahlawan sejati tidak minta dipuji jasanya, bunga mawar tidak mempropagandakan harumnya, tetapi harumnya dengan sendiri semerbak ke kanan-kiri. Hanya bangsa yang tahu menghargai pahlawan-pahlawannya, dapat menjadi bangsa yang besar…”.

Kepahlawanan bukan hanya bermakna lepas dari penjajahan dan menjadi bangsa yang merdeka secara politis, namun juga harus dipahami dari perspektif ekonomi untuk mensejahterakan masyarakat yang memiliki relevansi bagi rakyat Indonesia secara keseluruhan. Hakekat kepahlawanan adalah semangat untuk memberi, berbakti dan berkorban atas kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih luas. Itu sebabnya semangat kepahlawanan harus terus menerus dikobarkan agar bangsa ini tidak terjebak dalam hedonisme, ego sektoral dan sikap-sikap yang lebih mementingkan diri sendiri.

Untuk itulah, Pemkot Surabaya menggelar pesta rakyat dan mengusung tema “Surabaya Juang” dalam memperingati Hari Pahlawan pada tahun ini. Guna menggungah semangat pemuda hari ini dengan berkaca pada semangat juang para pemuda saat itu. Semangat dari aktivitas gerakan yang dilandasi kecintaan terhadap negeri ini untuk menciptakan serta menjaga keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia. Sebuah agenda pesta rakyat yang digelar sejak tanggal 1 November 2009 lalu dan berakhir pada tanggal 10 November 2009 ini diisi beragam kegiatan di pusat kota Surabaya..

Diantara beberapa kegiatan yang diselenggarakan adalah Parade Surabaya Juang, Konser Ludruk Juang, Performers Art 100 Patung, Festival Teater Rakyat, Seminar Kepahlawanan, Lomba Fotografi Kepahlawanan, Festival Film Pendek “Ayo Berjuang” dan kegiatan-kegiatan pendamping lainnya. Sebagai acara puncak, warga Kota Surabaya akan disuguhi pagelaran konser musik berkualitas bertajuk Simfoni untuk Bangsa dengan menampilkan grup band papan atas.

Pesta rakyat yang berkala tahunan ini sudah untuk yang kedua kalinya sejak digelar pertama kali pada tahun 2008 oleh Pemkot Surabaya. Gawe akbar ini tentu melibatkan seluruh elemen pada setiap lapisan masyarakat. Mulai dari yang berada di jajaran birokrasi pemerintah, aktivis LSM, seniman, pelajar dan mahasiswa hingga masyarakat kecil pun tak lepas ikut meramaikan kegiatan ini pula. Termasuk bagi mereka para perjuang veteran yang pernah turut andil menghantarkan bangsa ini kepada pintu gerbang kemerdekaan rakyat Indonesia dan mempertahankan keutuhan NKRI hingga detik ini.

Walaupun memang terkesan glamor dengan sedikit hura-hura di tengah kesengsaraan rakyat kecil saat ini, akan tetapi sepanjang kegiatan Surabaya Juang selama ini telah banyak mengundang perhatian masyarakat tidak hanya di daerah Surabaya dan sekitarnya namun juga seluruh rakyat di tanah air bahkan tidak sedikit para wisatawan asing menyempatkan diri untuk menghadiri deretan acara dalam Surabaya Juang 2009 ini. Perhelatan akbar yang dapat dijadikan sebuah wahana instropeksi diri mengenang peristiwa bersejarah 10 November 1945 di Surabaya. Momentum tepat dan pas guna membangkitkan semangat juang terutama di kalangan anak muda dalam memaknai arti sebuah kepahlawanan.

Serangkaian kegiatan Surabaya Juang 2009 seakan telah dapat membangkitkan kembali rasa nasionalisme para pemuda penerus bangsa terutama bagi arek-arek Suroboyo. Tentunya kita diharapkan tidak hanya untuk mengenang sejenak sebuah kisah perjuangan para pahlawan di masa lalu yang telah menghantarkan dan mempertahan kedaulatan NKRI. Tetapi juga bagimana kita semua dapat membangkitkan kembali rasa dan karsa nilai kepahlawanan dalam sanubari kita masing-masing yang selama ini sudah terkikis karena waktu terutama di era globalisasi seperti sekarang ini. Semoga!

*) Ahmad Makki Hasan
Alumnus Fak. Humaniora dan Budaya UIN Malang, Kini Guru SMAN 1 Kota Malang & Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang