Oleh: Ahmad Makki Hasan*

Perbincangan mengenai peningkatan SDM semakin sering kita dengar. Dimulai dari hal-hal yang bersifat mendasar hingga istilah Human Capital dan Brain Drain . Tidak hanya diberbagai organisasi profit tentunya, namun secara lebih luas kualitas SDM manusia Indonesia kini mulai dipertanyakan oleh banyak kalangan. Karena  memang potensi SDM menentukan bagaimana kemampuan diri manusia dapat mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan.

Dengan bergulirnya arus globalisasi dalam beberapa dekade terakhir ini tentu sedikit banyak telah menambah masalah baru tentunya bagi dunia pendidikan. Khususnya di tanah air yang memang belum memantapkan diri dalam dunia baru arus pendidikan saat ini. Bagaimana tidak, di satu sisi sistem pendidikan yang diterapkan harus perimplikasi pada jiwa nasionalisme peserta didik. Sedangkan di sisi yang lain, hajat pemenuhan kebutuhan pendidikan global harus ditanamkan pula. Agar para lulusannya dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat dunia tidak hanya di tanah air.

Transformasi pendidikan menjadi penting dengan melihat adanya tantangan kuat dalam era global. Salah satunya adalah transformasi nilai besar-besaran yang menciptakan konsekuesi logis munculnya budaya-budaya baru dalam penguatan etos kerja SDM kita. Kalau pendidikan masih mengandalkan pada aspek tertentu, dapat dipastikan dunia pendidikan kita akan ketinggalan jauh dengan bangsa-bangsa lain. Secara makro, era globalisasi adalah tantangan untuk merebut kompetensi SDM antar bangsa.

Dunia pendidikan Indonesia hingga hari ini memang terkesan masih berkutat pada pendidikan tradisional. Pendidikan yang ternyata belum mampu melahirkan insan-insan yang mampu memenuhi tuntutan dan tuntunan zaman di era global seperti saat ini. Pendidikan yang jika kita sadari jauh tertinggal dari negara-negara maju. Bahkan dengan Negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
 
Sebagai negara berkembang terbesar ketiga di dunia, bersama dengan Cina dan India yang mewakili 70% dari keseluruhan penduduk Asia, Indonesia diprediksi dapat semakin jauh tertinggal dalam hal SDM. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNDP pada Human Development Report 2005, Indonesia masih menduduku peringkat 110 dari 177 negara di dunia. Bahkan yang lebih mencemaskan, dalam peringkat daya saing dunia tahun 2004, Indonesia menempari ranking ke-60 tertinggal jauh di bawah Singapura dan Malaysia bahkan Thailand dan Filipina.

Dengan merenungi setiap jejak langkah kehidupan kita dewasa ini, terutama dalam ranah dunia pendidikan kita, harus terus menjadi perhatian bersama. Pendidikan yang berorientasikan global sebagai social investment mutlak mendapatkan perhatian khusus dan harus segera diberlakukan dan diberdayakan. Tiada lain dirancang untuk dapat membekali anak didik, sebagai penerus bangsa ini tentunya, agar memiliki kemampuan intelektual dan tanggungjawab guna memasuki kehidupan ke depan yang sangat kompetitif. 

Menghadirkan sebuah konsep pendidikan yang berwawasan transformatif sekaligus bervisikan global. Model pendidikan yang bersifat kooperatif terhadap segala kemampuan peserta didik menuju proses berfikir yang bebas dan inovatif. Menghargai sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki setiap individu dengan membiarkan potensi SDM-SDM setiap peserta didik itu tumbuh dan berkembang secara wajar dan manusiawi bukan malah dimatikan dengan berbagai bentuk penyeragaman dan sanksi. Semoga!

*) Ahmad Makki Hasan
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim – Malang dan Guru SMA Negeri 1 Kota Malang.