Oleh : Ahmad Makki Hasan*)

Wacana pendidikan karakter belakangan ini banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Tidak hanya para pemegang kebijakan dan praktisi pendidikan saja, namun hampir semua elemen masyarakat Indonesia mempersoalkan arah pendidikan nasional selama ini. Berbagai krisis moral yang sedang melanda bangsa Indonesia seperti perilaku korupsi, praktik politik yang tidak bermoral, bisnis yang culas, penegakan hukum yang tidak adil, perilaku intoleran, dan sebagainya lantara arah pendidikan kita yang tidak memiliki semangat kebangsaan yang berkeberadaban.

Pendidikan memang merupakan hal yang sangat vital. Terlebih bagi pembentukan karakter sebuah peradaban. Tanpa pendidikan, sebuah bangsa atau masyarakat tentu tidak akan pernah mendapatkan kemajuannya. Karena itu, peradaban yang memberdayakan dari sebuah pola pendidikan dalam skala luas akan menghasilkan pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman. Namun, jika melihat fenomena dalam dunia pendidikan nasional, ternyata pendidikan kita itu tidak berjalan sebagaimana mestinya dan bahkan mungkin ada yang salah dalam penerapkannya.

Pembentukan wawasan para intelektual generasi bangsa hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam bermasyarakat. Padahal tujuan pendidikan adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya. Tanggap terhadap berbagai perubahan, pembaharuan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejalan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman.

Era globalilasi yang ditandai dengan ledakan ilmu pengetahuan, revolusi ICT dan gelombang demokrasi yang mencengangkan telah mereduksi segala lini kehidupan masyarakat kontemporer. Membuat dunia menjadi begitu kompleks dan saling bergantung satu sama lain. Tidak terkecuali dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari nilai-nilai luhurnya. Digantikannya dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis.

Pendidikan nasional seharusnya menghasilkan para penerus bangsa yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual semata namun juga generasi yang mampu mengemban tanggungjawab guna memasuki kehidupan berbangsa dan bertanah air Indonesia yang sangat kompetitif. Generasi muda bangsa yang mampu memegang kendali ilmu pengetahuan modern namun tetap selalu mengedepankan budi luhur nenek moyang kita untuk saling kerjasama dan gotong-royong.

Kecenderungan kehidupan masyarakat kita dewasa ini, kian tampak sangat ekslusif dan individualistis. Hanya selalu mementingkan diri atau kelompoknya sendiri tanpa memandang diri atau kelompok lain yang juga membutuhkan kehidupan berdasarkan ideologi dan keyakinannya masing-masing. Sebuah hal yang ironi tentunya, karena hal itu bukan mustahil lagi kelak akan melahirkan banyak penderitaan, permusuhan dan persaingan yang tidak sehat yang dapat mengarah kepada destruktivisme dan barbaritas. Baik dalam diri individu maupun kelompok atas nama berbagai dimensi kepetingan kehidupan. 

Untuk itulah, dalam setiap jejak langkah kehidupan mestinya kita tetap berpegang teguh pada hakikat dunia pendidikan sejatinya. Bertindak seperti nilai-nilai pendidikan yang telah diajarkan selama ini dari akar budaya lelehur bangsa. Bukan malah mengubah landasan filosofis pendidikan dengan nilai-nilai pragmatis dalam kehidupan nyata yang hanya hampa belaka. Intinya, suatu pendidikan haruslah diarahkan pada tujuan mulia, yakni menjadikan manusia yang cerdas, kreatif dan humanis.

Saatnya kita harus menyiapkan para penerus bangsa ini untuk siap dan mampu dalam memasuki era globalisasi. Memberikan berbagai bekal (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) yang relevan untuk bisa hidup dan sekaligus memenangkan kompetisi yang sangat ketat. Namun tidak juga melupakan ranah-ranah lokal dengan tetap menggali dan mengembangkan nilai-nilai luhur nenek moyang kita serta memanfaatkan potensi-potensi daerah (lokal) dengan arif yang merupakan salah satu kekuatan alternatif bagi mereka dalam menghadapi era global.

Mengingat era globalisasi adalah era persaingan bebas yang ketat dalam berbagai aspek kehidupan. Sebuah era yang tidak lagi bisa dihindari oleh setiap penduduk dunia, termasuk masyarakat Indonesia. Era globalisasi adalah suatu kenyataan dan keniscayaan. Era globalisasi bisa menjadi berkah, tapi bisa juga menjadi musibah. Bergantung pada kesiapan generasi bangsa ini dalam mengarungi kehidupan hari ini dan masa mendatang.

Dunia pendidikan kita dituntut untuk memiliki karakter yang tidak hanya berpengetahuan global tapi juga harus tetap memegang teguh kepribadian lokal bangsa ini. Itupun harus dilakukan secara berjama’ah baik dalam skala individu maupun sosial dan menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat bangsa ini dan bukan dibebankan kepada individu maupun elemen tertentu saja. Sebuah pendidikan karakter yang lebih menekankan pada pengembangan nilai-nilai etika nenek moyang bangsa ini. Seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap diri dan orang lain. Berikut mengoptimalkan nilai-nilai kinerja pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan secara profesional sebagai basis karakter pendidikan nasional kita ke depan.

Tak salah jika dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional lalu, Kementrian Pendidikan Nasional mengusung tema “Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Karena itu, ungkapan  Think globally, Act Locally dan Learning To Live Together harus kita jadikan sebagai semangat baru pendidikan nasional kontemporer. Menjadikan bangsa ini agar jauh lebih berhasil memanusiakan insan pendidikan secara manusiawi dan juga berintelektual tinggi serta selalu bersikap demokratis, pluralis dan humanis secara sekaligus. Sebuah mimpi yang tentu tidak sekedar menjadi utopia belaka, namun kita harus mencoba mewujudkannya bersama-sama mulai hari ini. Semoga!

*) Ahmad Makki Hasan
Guru SMA Negeri 1 Kota Malang dan Mahasiswa PPs. UIN Maliki Malang.

Tulisan ini telah dimuat di Harian “Duta Masyarakat” edisi, Selasa, 29 Juni 2010.