Oleh: Ahmad Makki Hasan
Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
(ahmadmakkih@gmail.com)

Muslimat NU sebagai organisasi perempuan dibidang sosial keagamaan dan kemasyarakatan merupakan badan otonom dari Nahdlatul ‘Ulama (NU), akan segera merayakan hari lahirnya (Harlah) yang ke-70. Sejarah mencatat bahwa Muktamar NU di Menes – Banten tahun 1938 itu merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses katalisis terbentuknya organisasi Muslimat NU.

Sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka. Hingga pada akhirnya bersamaan dengan penutupan Muktamar NU ke-16 di Purwokerto, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggal 29 Maret 1946 M bertepatan dengan tanggal 26 Rabiul Akhir 1365 H sebagai wadah perjuangan wanita Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dalam mengabdi kepada agama, bangsa dan negara.

Terbentuknya organisasi Muslimat NU telah mematahkan anggapan jika wanita belum masanya untuk aktif di organisasi. Mengingat polarisasi pendapat yang cukup hangat yang ada saat itu adalah silang pendapat perlu tidaknya wanita berkecimpung dalam sebuah organisasi. Terlebih masih kuatnya stigma yang beranggapan bahwa perempuan lebih dijadikan sebagai second human being, konco wingking atau lebih ekstrim lagi the marginal person. Tidak heran jika itu menjadikan banyak anggapan bahwa ruang gerak wanita cukuplah di rumah saja masih  kuat melekat termasuk bagi kalangan warga NU sendiri. Hingga akhirnya muncul berbagai gerakan wanita di tubuh NU baik Muslimat, Fatayat hingga Ikatan Pelajar Putri NU.

Muslimat NU mempunyai tujuan utamanya adalah untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan Indonesia melalui bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, da’wah dan sosial. Sebagai wanita yang juga merupakan warga negara Indonesia harus berperan aktif di segala bidang kehidupan mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkesetaraan dan berkeadilan serta mendapatkan porsi yang sepadan dengan kaum laki-laki dalam pengambilan keputusan. Wanita juga dituntut untuk memiliki pemahaman dan kemampuan dalam memperjuangkan hak dan kewajibannya di segala aspek kehidupan.

Muslimat NU tidak boleh dipandang hanya sebagai kumpulan pengajian ibu-ibu untuk tahlilan, isthighosah, yasinan, sholawatan dan berbagai bentuk kegiatan riligusitas lainnya semata. Keberadaan Muslimat NU juga harus diwujudkan untuk memperjuangkan hak-hak wanita dan cita-cita nasional. Mengingat kelahirannya dilatarbelakangi keprihatian kuat atas keterbelakangan, kebodohan dan rendahnya derajat kesehatan yang dialami oleh kaum wanita sebagai akibat kuatnya budaya patriarkhi. Saatnya organisasi seperti halnya Muslimat NU dapat membangun kemandirian dan keberanian untuk melahirkan aksi-aksi strategis bagi pemberdayaan wanita.

Wanita kini semakin dihadapkan dengan berbagai tantangan. Selain mengurusi dirinya sendiri sebagai entitas yang bahkan seringkali tidak dianggap, tidak mendapatkan tempat, tidak dilibatkan, dan ditindas, perempuan juga dihadapatkan pada tanggung jawab terhadap anak dengan segala problematikanya dan lingkungan sekitar yang hingga saaat ini dirasa masih tidak pro pada kaum wanita. Hal ini dapat dilihat masih terdapatnya berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga mulai dari bentuk kekerasan secara fisik, kekerasan secara psikis, kekerasan seksual dan berbagai jenis penelantaran rumah tangga.

Banyak kaum wanita Indonesia menghadapi berbagai masalah mulai dari kemiskinan, kelaparan, rendahnya tingkat pendidikan, dan rentannya serangan penyakit menular hingga berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga dan masalah kesehatan reproduksi. Faktor-faktor lainnya, seperti belum tersedianya sarana pelayanan kesehatan dasar yang berkualitas, rendahnya pemahaman hidup sehat, serta permasalahan sosial dan budaya.

Muslimat NU dengan seluruh kadernya masih memiliki tantangan besar untuk mempunyai pola pikir kritis dan kemampuan untuk memutuskan sehingga dapat menuju transformasi pemberdayaan yang sesuai dengan nilai egalitarian yang sesungguhnya. Harapan kaum wanita agar sederajat dengan kaum laki-laki sudah semakin banyak terwujud. Berbagai posisi strategis kini telah banyak diisi oleh kaum wanita. Namun perjuangan tersebut masih belum selesai karena masih banyak wanita yang belum menikmati kesetaraan tersebut. Mengupayakan peningkatan pemberdayaan wanita melalui pendidikan, kesehatan, kemandirian ekonomi dan partisipasi politik wanita harus terus dilakukan namun bukan dimobilisasi untuk kepentingan-kepentingan lainnya.

Kedepan, Muslimat NU dituntut untuk turut aktif dimulai dengan melakukan kajian kritis terhadap berbagai kebijakan hukum dan politik yang tidak berpihak pada kepentingan perempuan, melakukan gerakan penyadaran hukum dan politik di masyarakat serta mengembangkan jaringan dengan organisasi dan lembaga lain yang memiliki perhatian terhadap masalah perempuan hingga pada program-program untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi, pengembangan koperasi perempuan, ekonomi berbasis kerakyatan dan mempermudah akses perempuan dan kelompok ekonomi lemah di daerah-daerah tertinggal.

Kaum wanita memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pilar dalam menghadapi berbagai tantangan di masyarakat kedepan. Terlebih pada era baru Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sekarang ini, ekonomi berbasis budaya dan ekonomi kreatif menjadi tombak penting perekonomian nasional. Kedua hal itu didominasi oleh kaum wanita. Kaum wanita diharapkan mampu menampilkan kearifan lokal dalam dimensi aktual agar mampu bersaing kuat dalam pasar global.

Di sinilah perempuan menjadi aktor penting, karena mereka sangat lekat dengan etos kearifan lokal yang tertanam kuat dalam keseharian warga. Gerakan pembedayaan wanita dengan mengoptimalkan kearifan lokal menjadi kunci utama. Strategi ini sebenarnya sudah dikembangkan masyarakat dunia sejak zaman dahulu, tinggal generasi masa kini mampu mengontekstualisasikan dalam gerakan inovatif untuk kemajuan peradaban bangsa dan negara.

Muslimat NU memiliki peran yang sangat penting sekali disini untuk melakukan gerakan secara masif dan berkesinambungan atas pembedayaan kaum wanita Indonesia. Muslimat NU diharapkan dapat bekerjasama dengan pemerintah dan organisasi non pemerintah lainnya dalam bersinergi untuk mencapai tujuan yang sama yaitu pemberdayaan kaum wanita Indonesia, kesetaraan dan keadilan gender. Semoga Muslimat NU dapat menjadi garda terdepan guna mewujudkan itu semua sesuai dengan tema perayaan harlah Ke-70 tahun 2016 ini, “Bersatu Mewujudkan Indonesia Damai Sejahtera”. Amin.

***

 

*) Tulisan Artikel (OPINI) ini telah dimuat di surat kabar harian Malang Post; Edisi Sabtu, 26 Maret 2016