Resensi


Oleh: Ahmad Makki Hasan**

Istilah santri dan kiai merupakan kata yang tidak asing di dunia pesantren. Bahkan tiga term kata ini (santri, kiai dan pesantren) menjadi hal yang sangat populer bagi masyarakat Indonesia utamanya di tanah Jawa. Bahkan jauh sebelum berdirinya bangsa Indonesia, santri dan kiai sudah turut andil dalam membangun peradaban dan pendidikan masyarakat di Indonesia. Tidak heran jika peran kaum santri dan kiai dalam mendirikan, memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia telah banyak tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa ini.

Sudah banyak diketahui bahwa kata “Santri” dalam berbagai bahasa yang telah diserap dalam bahasa Indonesia mengandung makna kaum terpelajar. Sedangkan “Kiai” adalah gelar dari masyarakat yang diberikan karena keluasan dan kedalaman ilmunya, serta karena pengabdiannya untuk masyarakat di sekelilingnya. Adapun “Pesantren” adalah sebuah pendidikan tradisional para santri , belajar di bawah bimbingan seorang kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap. (lebih…)

Iklan

Oleh: Ahmad Makki Hasan*

Judul : Etos Studi Kaum Santri (Wajah Baru Pendidikan Islam)
Penulis : Asrori S. Karni
Penerbit : Mizan – Bandung
Cetakan I : Oktober 2009
Tebal : xliii + 426 halaman

Pendidikan merupakan human investment yang sangat strategis untuk mencetak generasi di masa mendatang. Format pendidikan yang lebih baik sudah barang tentu menjadi keharusan di era globalisasi seperti saat ini. Masyarakat dengan berpengetahuan tinggi sudah menjadi sebuah keniscayaan, tidak terkecuali pada masyarakat Islam. Dalam catatatan sejarah, peradaban Islam sebenarnya telah menunjukkan betapa pentingnya pendidikan yang konprehensif dan kondusif dalam rangka memajukan dan meninggikan martabat manusia. Namun selama beberapa abad terakhir, peradaban Islam seakan mengalami kemerosotan bahkan kemunduran akibat kurangnya pendidikan yang mencerdaskan. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*

Judul : Pendidik Karakter di Zaman Keblinger (Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter)
Penulis : Doni Koesoema A.
Penerbit : PT. Grasindo – Jakarta
Cetakan I : 2009
Tebal : 215 halaman

Guru adalah pelaku perubahan. Gagasan ini menjadikan guru harus peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan, pembaharuan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejalan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Di sinilah tugas guru semestinya harus senantiasa mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas pendidikannya hingga apa yang diberikan kepada peserta didiknya tidak lagi terkesan ketinggalan zaman. Bahkan tidak sesederhana itu saja, ciri guru ideal di era globalisasi seperti saat ini perlu tampil sebagai pendidik, pengajar, pelatih, inovator dan dinamisator secara sekaligus dan integral dalam mencerdaskan anak didiknya.

Salah satu indikator utama unggul tidaknya sebuah sekolah adalah ditentukan dari faktor mutu guru. Guru dituntut memiliki profesionalisme di bidangnya. Artinya guru tidak hanya harus memiliki pengertahuan yang luas tentang bidang yang ajarnya, namun seluruh komponen yang berkaitan dengan pendidikan harus ada pada diri para guru itu sendiri. Hal itu pula didasarkan atas asumsi bahwa persoalan peningkatan mutu pendidikan tentu bertolak pada karakter seorang pendidik. Oleh sebab itu, semakin banyak guru yang berkualitas di suatu sekolah, tentu akan semakin berkualitas pulalah sekolah tersebut. (lebih…)

COVER BUKU (SEKOLAH BUKAN PASAR)Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru)
Penulis : St. Kartono
Penerbit : Penerbit Buku Kompas – Jakarta
Cetakan Ke-1 : Juni 2009
Tebal : 221 halaman

Budaya titip, prioritas anak pejabat, surat sakti dan main uang seakan menjadi rahasia umum dalam setiap proses penerimaan siswa baru. Belum lagi dengan biaya daftar ulang, uang gedung, sumbangan pendidikan lainnya jika dinyatakan diterima. Ketika tahun pelajaran mulai berjalan, pengadaan seragam siswa dan buku pelajaran menjadi tarik ulur berbagai elemen untuk mencari keuntungan. Menjelang akhir tahun pelajaran ada lagi. Sebut saja misalnya program study tour. Rutinitas irama dalam setiap kalender pendidikan semacam itulah yang memberikan kesan komersialisasi dalam dunia pendidikan di tanah air. (lebih…)

Cover Buku Pendidikan Kritis TransformatifOleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul :    Pendidikan Kritis Transformatif
Penulis :    Muhammad Karim
Penerbit :    Ar-Ruzz Media – Yogyakarta
Cetakan I :    April – 2009
Tebal :    281 halaman

Dunia pendidikan di tanah air selama ini, terasa tidak lebih dari apa yang disebut dengan pabrik intelektual. Sedangkan hakikat pendidikan seutuhnya seakan terabaikan begitu saja. Mengidentifikasikan bahwa dunia pendidikan kita telah mengalami pergeseran dari nilai-nilai sejatinya. Digantikan dengan produk-produk egoisme diri dan kebinatangan yang semakin serakah, tidak adil dan hampa akan nilai-nilai filosofis. Aksentuasinya terletak pada pembentukan watak dan wawasan para intelektual kita yang hanya terjebak pada nilai-nilai kehidupan yang kering akan moralitas dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.

Asumsi itu tidak lain didasarkan adanya beragam fakta yang menunjukkan bahwa di segala jenjang dan bidang kehidupan di negeri ini mengalami krisis filosofi hidup. Mereka yang terdidik justru menjadi koruptor sedangkan mereka yang tidak terdidik malah menjadi maling. Ada pula golongan yang kebingungan, lalu menjadi tukang pengisap sabu-sabu dan terjerumus pada narkoba. Padahal tujuan pendidikan sebenarnya adalah melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya. (lebih…)

Cover Buku Iklan Politik dalam Realitas MediaOleh: Ahmad Makki Hasan*

Judul : Iklan Politik Dalam Realitas Media
Penulis : Sumbo Tinarbuko
Pengantar : Yasraf A. Piliang
Penerbit : Jalasutra – Yogyakarta
Cetakan I : Maret – 2009
Tebal : xx + 120 halaman

Kampanye dengan beriklan secara besar-besaran yang membutuhkan biaya tinggi dianggap mampu mendongkrak popularitas. Itulah yang seakan menjadi matra bagi setiap partai politik dan para calon legislatif bahkan calon presiden dan calon wakil presiden untuk mencuri pilihan politik masyarakat pada abad teknologi informasi dan komunikasi ini. Citra politik seorang tokoh dibangun dengan instan melalui aneka macam media baik cetak maupun elektronik. Melalui mantra itu, diharapkan persepsi, pandangan dan sikap politik masyarakat bisa dibentuk sedemikian rupa. Tujuannya tiada lain agar dapat mendongkrak perolehan suara berlipat ganda.

Pemilu kali ini menjelma menjadi politik pencitraan yang lebih merayakan citra ketimbang kompetensi yang dimiliki. Pencitraan diri yang kemudian disebarluaskan melalui berbagai macam bentuk media dengan sendirinya akan menggiring pada sikap narsisisme, simplisisme dan nihilisme dalam berpolitik. Adalah kecenderungan pemujaan diri yang berlebihan para elit politik dalam membangun citra diri meskipun itu jelas bukan realitas diri yang sesungguhnya. Dekat dengan petani, pembela wong cilik, akrab dengan pedangan pasar, pemimpin bertakwa, penjaga keutuhan bangsa, pemberantas korupsi dan segudang lagi bentuk pencitraan diri yang penuh kebohongan. (lebih…)

cover-buku-strategi-madrasah-unggul1Oleh : Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Strategi Madrasah Unggul
Penulis : Drs. H. Farid Hasyim, M.Ag.
Penerbit : Prismasophie – Yogyakarta
Cetakan I : April 2009
Tebal : 176 halaman

Ada banyak bentuk dan jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Sebut saja misalnya Pondok Pesantren, Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA), Madrasah, Perguruan Tinggi Islam dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya merupakan aset dari konfigurasi sistem pendidikan nasional. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sejatinya diharapkan menjadi khasanah pendidikan Islam dan dapat membangun serta memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal. Namun pada kenyataan pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini.

Sebagai contoh adalah lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan madrasah. Sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam di tanah air hingga hari ini madrasah masih dipandang sebelah mata. Keberadaannya seakan turut mengindikasikan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia penuh dengan ketertinggalan, kemunduran dan dalam kondisi yang serba tidak jelas. Memang terasa janggal dan mungkin juga lucu, karena dalam suatu komunitas masyarakat muslim yang besar, madrasah kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. (lebih…)

Laman Berikutnya »