Agama


PROGRAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB ONLINE

العربية على الإنترنيت (http://www.Arabic-Online.net)

www.Arabic-Online.net-page-001(1)

 

Oleh: Ahmad Makki Hasan
Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
(ahmadmakkih@gmail.com)

Muslimat NU sebagai organisasi perempuan dibidang sosial keagamaan dan kemasyarakatan merupakan badan otonom dari Nahdlatul ‘Ulama (NU), akan segera merayakan hari lahirnya (Harlah) yang ke-70. Sejarah mencatat bahwa Muktamar NU di Menes – Banten tahun 1938 itu merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses katalisis terbentuknya organisasi Muslimat NU.

Sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka. Hingga pada akhirnya bersamaan dengan penutupan Muktamar NU ke-16 di Purwokerto, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggal 29 Maret 1946 M bertepatan dengan tanggal 26 Rabiul Akhir 1365 H sebagai wadah perjuangan wanita Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dalam mengabdi kepada agama, bangsa dan negara. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

A. Prolog
Ada banyak bentuk dan jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Sebut saja misalnya Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA), Madrasah (Diniyah), Pondok Pesantren dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya (tanpa disadari) merupakan aset dari konfigurasi sistem pendidikan nasional. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sejatinya diharapkan menjadi khasanah pendidikan Islam dan dapat membangun serta memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal. Namun pada kenyataan pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini.

Sebagai contoh adalah lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan madrasah diniyah. Sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam di tanah air, hingga hari ini madrasah masih dipandang sebelah mata. Keberadaannya seakan turut mengindikasikan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia penuh dengan ketertinggalan, kemunduran dan dalam kondisi yang serba tidak jelas. Memang terasa janggal dan mungkin juga lucu, karena dalam suatu komunitas masyarakat muslim yang besar seperti Indonesia ini, madrasah diniyah kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*

Judul : Etos Studi Kaum Santri (Wajah Baru Pendidikan Islam)
Penulis : Asrori S. Karni
Penerbit : Mizan – Bandung
Cetakan I : Oktober 2009
Tebal : xliii + 426 halaman

Pendidikan merupakan human investment yang sangat strategis untuk mencetak generasi di masa mendatang. Format pendidikan yang lebih baik sudah barang tentu menjadi keharusan di era globalisasi seperti saat ini. Masyarakat dengan berpengetahuan tinggi sudah menjadi sebuah keniscayaan, tidak terkecuali pada masyarakat Islam. Dalam catatatan sejarah, peradaban Islam sebenarnya telah menunjukkan betapa pentingnya pendidikan yang konprehensif dan kondusif dalam rangka memajukan dan meninggikan martabat manusia. Namun selama beberapa abad terakhir, peradaban Islam seakan mengalami kemerosotan bahkan kemunduran akibat kurangnya pendidikan yang mencerdaskan. (lebih…)

cover-buku-strategi-madrasah-unggul1Oleh : Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Strategi Madrasah Unggul
Penulis : Drs. H. Farid Hasyim, M.Ag.
Penerbit : Prismasophie – Yogyakarta
Cetakan I : April 2009
Tebal : 176 halaman

Ada banyak bentuk dan jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Sebut saja misalnya Pondok Pesantren, Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA), Madrasah, Perguruan Tinggi Islam dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya merupakan aset dari konfigurasi sistem pendidikan nasional. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sejatinya diharapkan menjadi khasanah pendidikan Islam dan dapat membangun serta memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal. Namun pada kenyataan pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini.

Sebagai contoh adalah lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan madrasah. Sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam di tanah air hingga hari ini madrasah masih dipandang sebelah mata. Keberadaannya seakan turut mengindikasikan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia penuh dengan ketertinggalan, kemunduran dan dalam kondisi yang serba tidak jelas. Memang terasa janggal dan mungkin juga lucu, karena dalam suatu komunitas masyarakat muslim yang besar, madrasah kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. (lebih…)

cover-buku-gerakan-kebebasan-sipilOleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Gerakan Kebebasan Sipil (Studi dan Advokasi Kritis atas Perda Syari’ah)
Penulis : Ihsan Ali-Fauzi dan Saiful Mujani (editor)
Penerbit : Nalar – Jakarta
Cetakan I : Januari – 2009
Tebal : 178 halaman

Pemberlakukan Undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Otonomi Daerah mengisyaratkat berbagai kemungkinan pengelolaan dan pengembangan di segala bidang. Beralihnya pengelolaan di segala lini dari yang tadinya bersifat sentralistik menjadi desentralistik. Namun dalam praktinya, penerapan kebijakan desentralistik dengan lahirnya perda-perda syari’ah misalnya, ditengarahi memiliki banyak kelemahan yang harus ditangani secara seksama oleh stakeholder yang terkait serta dibutuhkannya kajian ulang atas itu semua.

Proses demokratisasi di negara berkembang seperti Indonesia memang bukan pekerjaan mudah. Merawat, menjaga dan mengontrol kebebasan sipil dari regulasi-regulasi agama yang dihasilkan oleh pemerintah terpilih baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah membutuhkan hati nurani yang cukup berani dan harus adil. Mengingat gelombang demokrasi sepanjang satu dasawarsa belakangan di tanah air memungkinkan semua elemen masyarakat, tak terkecuali kelompok Islam garis keras, berani menyuarakan tuntutan mereka secara terbuka dan vulgar. Diantara tuntutan paling kuat yang disuarakan sebagian kalangan Islam adalah membawa syari’ah ke ruang publik. (lebih…)