Ekonomi


Oleh: Ahmad Makki Hasan
Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
(ahmadmakkih@gmail.com)

Muslimat NU sebagai organisasi perempuan dibidang sosial keagamaan dan kemasyarakatan merupakan badan otonom dari Nahdlatul ‘Ulama (NU), akan segera merayakan hari lahirnya (Harlah) yang ke-70. Sejarah mencatat bahwa Muktamar NU di Menes – Banten tahun 1938 itu merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses katalisis terbentuknya organisasi Muslimat NU.

Sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka. Hingga pada akhirnya bersamaan dengan penutupan Muktamar NU ke-16 di Purwokerto, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggal 29 Maret 1946 M bertepatan dengan tanggal 26 Rabiul Akhir 1365 H sebagai wadah perjuangan wanita Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dalam mengabdi kepada agama, bangsa dan negara. (lebih…)

Iklan

Oleh : Ahmad Makki Hasan*)

Pendidikan adalah sarana untuk mentrasformasi kehidupan kearah yang lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial seseorang. Orang yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan (prestice of life) dimata publik walaupun dari keturunannya yang tidak memiliki kekayaan berlimpah. Dengan pendidikan yang lebih tinggi pula, seseorang akan mudah mencari pekerjaan. Apalagi jika seseorang telah memperoleh gelar sarjana.

Seorang sarjana yang lebih punya bekal ilmu dan luas pengetahuannya, lebih mantap profesionalitas dan pengalamannya serta memiliki semangat wirausaha dengan jiwa kepemimpinannya yang matang seharusnya bebas dari pengangguran. Namun apa boleh dikata, realita di lapangan tidak begitu adanya. Pengangguran terdidik bagi para lulusan universitas sedikit banyak telah memperbesar angka pengangguran. Di Jawa Timur misalnya, ada lebih dari 57 ribu orang dengan gelar sarjana mengganggur dari sekitar 1 juta orang di Jatim yang mengganggur. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Aksi demontrasi dalam negara yang menganut paham demokrasi seperti Indonesia adalah hal yang wajar-wajar saja. Bahkan demonstrasi merupakan salah satu pilar dalam sendi-sendi demokrasi itu sendiri. Sayangnya, aksi unjuk rasa yang sering dilakukan selama ini lebih banyak memberikan dampak mudarat dari pada manfaatnya.

Salah satu contoh yang paling aktual adalah ketika massa yang terdiri dari Bendera, Marhains Bersatu, GPI, HMI, MPO, KAMERAD, GPK, STIKMA, LEPAS, PPMI, dan elemen-elemen masyarakat lainnya yang berjumlah 300-an orang tengah melakukan aksi demonstasi pada saat para anggota DPR menggelar sidang paripurna terkait kasus Bank Century di Gedung DPR Senayan – Jakarta, Selasa (2/3). (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*

Judul : Etos Studi Kaum Santri (Wajah Baru Pendidikan Islam)
Penulis : Asrori S. Karni
Penerbit : Mizan – Bandung
Cetakan I : Oktober 2009
Tebal : xliii + 426 halaman

Pendidikan merupakan human investment yang sangat strategis untuk mencetak generasi di masa mendatang. Format pendidikan yang lebih baik sudah barang tentu menjadi keharusan di era globalisasi seperti saat ini. Masyarakat dengan berpengetahuan tinggi sudah menjadi sebuah keniscayaan, tidak terkecuali pada masyarakat Islam. Dalam catatatan sejarah, peradaban Islam sebenarnya telah menunjukkan betapa pentingnya pendidikan yang konprehensif dan kondusif dalam rangka memajukan dan meninggikan martabat manusia. Namun selama beberapa abad terakhir, peradaban Islam seakan mengalami kemerosotan bahkan kemunduran akibat kurangnya pendidikan yang mencerdaskan. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Memasuki tahun 2009 ini, pemerintah kian gencar mewacanakan pendidikan gratis. Terlebih dalam beberapa minggu terakhir ini Departemen Pendidikan Nasional mengeluarkan iklan sekolah gratis. Tidak tanggung-tanggung, iklan sekolah gratis ini santer ditampilkan di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA juga nampang pada iklan tersebut. Tertulis cukup besar dalam pita merah, Sekolah Gratis. Di atasnya tampak tulisan sedikit lebih kecil, Mulai Tahun 2009. Dengan ukuran yang sama di bawahnya ada tulisan, Khusus SD dan SMP Negeri. Satu baris tulisan lagi dibuat sangat kecil di bawahnya, (Kecuali RSBI dan SBI).

Sebelumnya memang pemerintah melalui Menteri Pendidikan Nasional juga telah mengeluarkan instruksi bernomor 186/MPN/KU/2008 yang ditujukan kepada setiap penyelenggara pendidikan untuk tidak ada lagi pungutan-pungutan kepada masyarakat yang sedang menyekolahkan putra-putrinya pada jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP Negeri). Sebagai bentuk tindak lanjut diberlakukannya PP. No. 47/2008 dan PP. No. 48/2008 tentang pembiayaan pendidikan. Hal ini juga dikarenakan pemerintah sudah menaikkan jumlah dana BOS 2009 sebesar rata-rata 50% dari dana sebelumnya (tahun 2008). (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Festival Malang Kembali (FMK) atau juga dikenal dengan Malang Tempo Doeloe (MTD) adalah agenda tahunan yang ditunggu-tunggu masyarakat Malang pada khususnya dan masyarakat Jawa Timur bahkan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya. Utamanya bagi mereka yang mempunyai kepedulian pada sejarah dan budaya lokal. Sebuah kegiatan yang tidak hanya memberikan nuansa hiburan pada rakyat, gelar kuliner tempo dulu, ajang temu antik, ajang fashion tempo dulu bahkan barang-barang bersejarah namun juga menjadi ajang pembelajaran budaya dan sejarah dihadirkan dalam kegiatan ini.

Sebuah kegiatan yang jarang diadakan atau bahkan tidak pernah ada di daerah-daerah lain kecuali hanya dapat ditemukan di Kota Malang, Kota Bunga sekaligus Kota Pendidikan Internasional ini. Acara yang mengemas secara apik dan menarik potret sejarah dengan berbagai budaya lokal bangsa dan rakyat Indonesia, khususnya yang berada di Malang Raya. Menghadirkan kembali ikon budaya lokal dan sejarah bangsa Indonesia secara umum yang kini tengah dirongrong oleh perkembangan zaman yang begitu cepat dari waktu ke waktu. (lebih…)

cover-buku-menggugat-pendidikan-indonesiaOleh: Ahmad Makki Hasan*)

Judul : Menggugat Pendidikan Indonesia (Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara)
Penulis : Moh. Yamin
Penerbit : Ar-Ruzz Media – Yogyakarta
Cetakan I : Januari – 2009
Tebal : 300 halaman

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat vital bagi pembentukan karakter sebuah peradaban dan kemajuan yang mengirinya. Termasuk bangsa ini yang kini tengah menunggu peran implementasi pendidikan yang mencerdaskan, membawa kehidupan bangsa yang beradab, berdaya saing tinggi, berkualitas dan mandiri. Sebagaimana yang telah diamantkan dalam konstitusi negara ini untuk melahirkan individu-individu yang merdeka, matang, bertanggungjawab dan peka terhadap permasalah sosial di lingkungan sekitarnya.

Sayangnya, cita-cita sebagaimana yang telah diamanatkan dalam konstitusi bangsa ini seakan masih jauh dari harapan bersama. Sejarah pendidikan di negeri ini justru selalu diwarnai berbagai kepentingan politik praktis dan menjadi kerdil atas ulah segelintir orang. Hal ini menunjukkan disorientasi pendidikan nasional kian menjadi nyata adanya. Tak heran ketika pendidikan Indonesia hari ini tidak mampu melakukan hal-hal yang konstruktif. Justru menjadi buta terhadap dunia kapitalis yang tengah menghegemoninya, sehingga terjerumus pada ideologi hedonis dan tidak lagi dapat bernalar kritis. (lebih…)

Laman Berikutnya »