Oleh: Ahmad Makki Hasan (Guru SMA Negeri 1 Malang)
ahmadmakkih@gmail.com / 081334672119

Nuansa berbeda selama dua bulan terakhir di kota Malang telah banyak mengundang perhatian setiap orang. Berbagai kegiatan dikemas sedemikian rupa. Acara demi acara seakan tidak pernah berhenti sebagai bentuk ungkapan syukur; mulai dari kegiatan yang berbentuk pesta rakyat hingga yang bersifat religiusitas. Semua itu tiada lain dalam sebuah rangkaian peringatan satu abad kota Malang. Tepat pada 1 April 2014 lalu kota Malang genap berusia 100 tahun.

Dalam rangka momentum HUT kota Malang, Pemerintah kota Malang dengan struktur pemerintahan baru menggagas tema besar “Dengan semangat satu abad kota Malang, kita wujudkan masyarakat ceria, cerdas dan cemerlang menuju kota yang bermartabat”. Menjadi sebuah visi dan harapan bersama yang ditawarkan oleh pemerintah kota Malang agar dapat diwujudkan. Setiap elemen masyarakat diminta bahu-membahu; tidak sekedar mensosialisasikan jargon tema tersebut namun lebih dari itu diharapkan bekerja sama menerjemahkan dan membumikan tema besar itu secara bersama-sama guna menyongsong kota Malang baru yang lebih baik. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

A. Prolog
Ada banyak bentuk dan jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Sebut saja misalnya Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA), Madrasah (Diniyah), Pondok Pesantren dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya (tanpa disadari) merupakan aset dari konfigurasi sistem pendidikan nasional. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sejatinya diharapkan menjadi khasanah pendidikan Islam dan dapat membangun serta memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal. Namun pada kenyataan pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini.

Sebagai contoh adalah lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan madrasah diniyah. Sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam di tanah air, hingga hari ini madrasah masih dipandang sebelah mata. Keberadaannya seakan turut mengindikasikan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia penuh dengan ketertinggalan, kemunduran dan dalam kondisi yang serba tidak jelas. Memang terasa janggal dan mungkin juga lucu, karena dalam suatu komunitas masyarakat muslim yang besar seperti Indonesia ini, madrasah diniyah kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. (lebih…)

Oleh : Ahmad Makki Hasan*)

Pendidikan adalah sarana untuk mentrasformasi kehidupan kearah yang lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial seseorang. Orang yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan (prestice of life) dimata publik walaupun dari keturunannya yang tidak memiliki kekayaan berlimpah. Dengan pendidikan yang lebih tinggi pula, seseorang akan mudah mencari pekerjaan. Apalagi jika seseorang telah memperoleh gelar sarjana.

Seorang sarjana yang lebih punya bekal ilmu dan luas pengetahuannya, lebih mantap profesionalitas dan pengalamannya serta memiliki semangat wirausaha dengan jiwa kepemimpinannya yang matang seharusnya bebas dari pengangguran. Namun apa boleh dikata, realita di lapangan tidak begitu adanya. Pengangguran terdidik bagi para lulusan universitas sedikit banyak telah memperbesar angka pengangguran. Di Jawa Timur misalnya, ada lebih dari 57 ribu orang dengan gelar sarjana mengganggur dari sekitar 1 juta orang di Jatim yang mengganggur. (lebih…)

Oleh : Ahmad Makki Hasan*)

Wacana pendidikan karakter belakangan ini banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Tidak hanya para pemegang kebijakan dan praktisi pendidikan saja, namun hampir semua elemen masyarakat Indonesia mempersoalkan arah pendidikan nasional selama ini. Berbagai krisis moral yang sedang melanda bangsa Indonesia seperti perilaku korupsi, praktik politik yang tidak bermoral, bisnis yang culas, penegakan hukum yang tidak adil, perilaku intoleran, dan sebagainya lantara arah pendidikan kita yang tidak memiliki semangat kebangsaan yang berkeberadaban.

Pendidikan memang merupakan hal yang sangat vital. Terlebih bagi pembentukan karakter sebuah peradaban. Tanpa pendidikan, sebuah bangsa atau masyarakat tentu tidak akan pernah mendapatkan kemajuannya. Karena itu, peradaban yang memberdayakan dari sebuah pola pendidikan dalam skala luas akan menghasilkan pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman. Namun, jika melihat fenomena dalam dunia pendidikan nasional, ternyata pendidikan kita itu tidak berjalan sebagaimana mestinya dan bahkan mungkin ada yang salah dalam penerapkannya. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Usulan salah satu Fraksi di DPR terkait dana aspirasi Rp. 15 miliar bagi tiap anggota dewan terus menuai kontroversi. Fraksi Partai Golkar yang mengusulkan dana aspirasi per anggota per dapil itu yang jika ditotal ada sekitar Rp. 8,4 triliun per tahun akan mengalir pada setiap angota DPR telah banyak mendapatkan kecaman. Tidak hanya sejumlah organisasi non-pemerintah yang ramai-ramai menyatakan penolakannya, namun beberapa Fraksi di senayan juga mempertanyakan ulang usulan itu. Bahkan gabungan partai koalisi pun memiliki pendapat yang bersebrangan.

Bagi para anggota dewan yang mengusulkan itu, adanya dana aspirasi tersebut merupakan langkah positif dari anggota DPR untuk membantu percepatan pembangunan di daerah. Berupa alokasi anggaran untuk proyek pembangunan daerah pemilihan (dapil) masing-masing wakil rakyat. Realisasinya, anggota DPR membuat proposal mengenai proyek pembangunan yang dinilai penting sekali untuk kesejahteraan rakyat. Penyalurannya pun tidak secara tunai ke dapilnya masing-masing tapi dalam bentuk program pembangunan sesuai aspirasi masyarkat di daerah. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

Aksi demontrasi dalam negara yang menganut paham demokrasi seperti Indonesia adalah hal yang wajar-wajar saja. Bahkan demonstrasi merupakan salah satu pilar dalam sendi-sendi demokrasi itu sendiri. Sayangnya, aksi unjuk rasa yang sering dilakukan selama ini lebih banyak memberikan dampak mudarat dari pada manfaatnya.

Salah satu contoh yang paling aktual adalah ketika massa yang terdiri dari Bendera, Marhains Bersatu, GPI, HMI, MPO, KAMERAD, GPK, STIKMA, LEPAS, PPMI, dan elemen-elemen masyarakat lainnya yang berjumlah 300-an orang tengah melakukan aksi demonstasi pada saat para anggota DPR menggelar sidang paripurna terkait kasus Bank Century di Gedung DPR Senayan – Jakarta, Selasa (2/3). (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*

Perbincangan mengenai peningkatan SDM semakin sering kita dengar. Dimulai dari hal-hal yang bersifat mendasar hingga istilah Human Capital dan Brain Drain . Tidak hanya diberbagai organisasi profit tentunya, namun secara lebih luas kualitas SDM manusia Indonesia kini mulai dipertanyakan oleh banyak kalangan. Karena  memang potensi SDM menentukan bagaimana kemampuan diri manusia dapat mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan.

Dengan bergulirnya arus globalisasi dalam beberapa dekade terakhir ini tentu sedikit banyak telah menambah masalah baru tentunya bagi dunia pendidikan. Khususnya di tanah air yang memang belum memantapkan diri dalam dunia baru arus pendidikan saat ini. Bagaimana tidak, di satu sisi sistem pendidikan yang diterapkan harus perimplikasi pada jiwa nasionalisme peserta didik. Sedangkan di sisi yang lain, hajat pemenuhan kebutuhan pendidikan global harus ditanamkan pula. Agar para lulusannya dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat dunia tidak hanya di tanah air. (lebih…)