Ahmad Makki Hasan
Guru di SMA Negeri 1 Kota Malang
ahmadmakkih@gmail.com

METODE pembelajaran dengan model digital, e-learning, daring, online, dan banyak istilah baru lainnya terus berkembang dan menjadi kebutuhan di dunia pendidikan kontemporer. Fenomena ini terjadi seiring munculnya beragam inovasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Telkom Indonesia bersinergi dengan program pemerintah di bidang pendidikan terpanggil membantu pendidik di tanah air agar memiliki kompetensi khusus di bidang TIK.

Kontribusi nyata dalam mengoptimalkan pembelajaran peserta didik yang diwujudkan dalam Indonesia Digital Learning (IDL). Tahun 2016 ini IDL masuk tahun ketiga ditandai dengan seminar di delapan kota besar sekaligus.

Di Surabaya, seminar IDL 2016 digelar Kamis-Jumat, 21-22 April 2016 di Hotel Garden Palace Surabaya yang dihadiri 300 peserta pendidik se Jawa Timur yang lolos seleksi. (lebih…)

Iklan

Oleh: Ahmad Makki Hasan
Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
(ahmadmakkih@gmail.com)

Muslimat NU sebagai organisasi perempuan dibidang sosial keagamaan dan kemasyarakatan merupakan badan otonom dari Nahdlatul ‘Ulama (NU), akan segera merayakan hari lahirnya (Harlah) yang ke-70. Sejarah mencatat bahwa Muktamar NU di Menes – Banten tahun 1938 itu merupakan forum yang memiliki arti tersendiri bagi proses katalisis terbentuknya organisasi Muslimat NU.

Sejak kelahirannya pada tahun 1926, NU adalah organisasi yang anggotanya hanyalah kaum laki-laki belaka. Hingga pada akhirnya bersamaan dengan penutupan Muktamar NU ke-16 di Purwokerto, organisasi Muslimat NU secara resmi dibentuk, tepatnya tanggal 29 Maret 1946 M bertepatan dengan tanggal 26 Rabiul Akhir 1365 H sebagai wadah perjuangan wanita Islam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dalam mengabdi kepada agama, bangsa dan negara. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan
085755750111 / ahmadmakkih@gmail.com
(Guru SMA Negeri 1 Kota Malang)

Beberapa pekan terakhir ini siswa disibukkan dengan agenda tryout sebagai bagian dari persiapan menjelang ujian nasional. Utamanya bagi siswa yang berada dibangku kelas 6 (SD), 9 (SMP) dan 12 (SMA/SMK), tryout menjadi agenda rutinitas pada setiap tahunnya. Kegiatan tryout tidak hanya diselenggarakan oleh pihak internal sekolah saja, tapi juga digelar oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar dan dinas pendidikan setempat.

Bahkan beberapa stakeholder pendidikan di masyarakat tidak mau ketinggalakan untuk melaksanakan agenda try out ini. Sebut saja beberapa universitas hingga surat kabar harian seperti halnya Radar Malang (Jawa Pos Group) gencar melaksanakan berbagai program semacam ini. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan (Guru SMA Negeri 1 Malang)
ahmadmakkih@gmail.com / 081334672119

Nuansa berbeda selama dua bulan terakhir di kota Malang telah banyak mengundang perhatian setiap orang. Berbagai kegiatan dikemas sedemikian rupa. Acara demi acara seakan tidak pernah berhenti sebagai bentuk ungkapan syukur; mulai dari kegiatan yang berbentuk pesta rakyat hingga yang bersifat religiusitas. Semua itu tiada lain dalam sebuah rangkaian peringatan satu abad kota Malang. Tepat pada 1 April 2014 lalu kota Malang genap berusia 100 tahun.

Dalam rangka momentum HUT kota Malang, Pemerintah kota Malang dengan struktur pemerintahan baru menggagas tema besar “Dengan semangat satu abad kota Malang, kita wujudkan masyarakat ceria, cerdas dan cemerlang menuju kota yang bermartabat”. Menjadi sebuah visi dan harapan bersama yang ditawarkan oleh pemerintah kota Malang agar dapat diwujudkan. Setiap elemen masyarakat diminta bahu-membahu; tidak sekedar mensosialisasikan jargon tema tersebut namun lebih dari itu diharapkan bekerja sama menerjemahkan dan membumikan tema besar itu secara bersama-sama guna menyongsong kota Malang baru yang lebih baik. (lebih…)

Oleh: Ahmad Makki Hasan*)

A. Prolog
Ada banyak bentuk dan jenis lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Sebut saja misalnya Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA), Madrasah (Diniyah), Pondok Pesantren dan sebagainya. Kesemuanya itu, sesungguhnya (tanpa disadari) merupakan aset dari konfigurasi sistem pendidikan nasional. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan tersebut, sejatinya diharapkan menjadi khasanah pendidikan Islam dan dapat membangun serta memberdayakan umat Islam di Indonesia secara optimal. Namun pada kenyataan pendidikan Islam di Indonesia tidak memiliki kesempatan yang luas untuk bersaing dalam membangun umat yang besar ini.

Sebagai contoh adalah lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan madrasah diniyah. Sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan Islam di tanah air, hingga hari ini madrasah masih dipandang sebelah mata. Keberadaannya seakan turut mengindikasikan bahwa lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia penuh dengan ketertinggalan, kemunduran dan dalam kondisi yang serba tidak jelas. Memang terasa janggal dan mungkin juga lucu, karena dalam suatu komunitas masyarakat muslim yang besar seperti Indonesia ini, madrasah diniyah kurang mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara optimal. (lebih…)

Oleh : Ahmad Makki Hasan*)

Pendidikan adalah sarana untuk mentrasformasi kehidupan kearah yang lebih baik. Pendidikan pun dijadikan standar stratifikasi sosial seseorang. Orang yang berpendidikan akan mendapatkan penghormatan (prestice of life) dimata publik walaupun dari keturunannya yang tidak memiliki kekayaan berlimpah. Dengan pendidikan yang lebih tinggi pula, seseorang akan mudah mencari pekerjaan. Apalagi jika seseorang telah memperoleh gelar sarjana.

Seorang sarjana yang lebih punya bekal ilmu dan luas pengetahuannya, lebih mantap profesionalitas dan pengalamannya serta memiliki semangat wirausaha dengan jiwa kepemimpinannya yang matang seharusnya bebas dari pengangguran. Namun apa boleh dikata, realita di lapangan tidak begitu adanya. Pengangguran terdidik bagi para lulusan universitas sedikit banyak telah memperbesar angka pengangguran. Di Jawa Timur misalnya, ada lebih dari 57 ribu orang dengan gelar sarjana mengganggur dari sekitar 1 juta orang di Jatim yang mengganggur. (lebih…)

Oleh : Ahmad Makki Hasan*)

Wacana pendidikan karakter belakangan ini banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Tidak hanya para pemegang kebijakan dan praktisi pendidikan saja, namun hampir semua elemen masyarakat Indonesia mempersoalkan arah pendidikan nasional selama ini. Berbagai krisis moral yang sedang melanda bangsa Indonesia seperti perilaku korupsi, praktik politik yang tidak bermoral, bisnis yang culas, penegakan hukum yang tidak adil, perilaku intoleran, dan sebagainya lantara arah pendidikan kita yang tidak memiliki semangat kebangsaan yang berkeberadaban.

Pendidikan memang merupakan hal yang sangat vital. Terlebih bagi pembentukan karakter sebuah peradaban. Tanpa pendidikan, sebuah bangsa atau masyarakat tentu tidak akan pernah mendapatkan kemajuannya. Karena itu, peradaban yang memberdayakan dari sebuah pola pendidikan dalam skala luas akan menghasilkan pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman. Namun, jika melihat fenomena dalam dunia pendidikan nasional, ternyata pendidikan kita itu tidak berjalan sebagaimana mestinya dan bahkan mungkin ada yang salah dalam penerapkannya. (lebih…)